LombokPost--Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru setelah kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) beralih kepada Nanik S Deyang.
Sejumlah perubahan strategi mulai disiapkan untuk mempercepat pemerataan layanan gizi bagi masyarakat.
Salah satu langkah yang diwacanakan adalah pemanfaatan kantin sekolah, dapur umum, hingga fasilitas milik komunitas sebagai pusat produksi makanan bergizi.
Kebijakan ini terutama ditujukan untuk menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang selama ini menghadapi tantangan infrastruktur.
Melalui pendekatan tersebut, BGN menilai distribusi makanan bergizi dapat dilakukan lebih cepat dan efisien dibandingkan harus membangun dapur baru dari awal di setiap daerah.
Baca Juga: Setelah Hampir 7 Tahun, Xi Jinping Akhirnya Menginjakkan Kaki di Pyongyang, Kim Jong-un Sambut Megah
Tak hanya itu, BGN juga memberlakukan moratorium sementara pembangunan dapur baru.
Sebagai gantinya, lembaga tersebut akan memaksimalkan operasional dapur yang sudah tersedia agar cakupan layanan Program MBG dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
Dalam skema terbaru ini, perhatian juga diarahkan pada kelompok prioritas yang disebut 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Kelompok tersebut dinilai memiliki peran penting dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
Selain memperluas jangkauan layanan, BGN turut memperkuat standar operasional program melalui peningkatan keamanan pangan, kualitas sumber daya manusia, sistem pengawasan, serta integrasi data penerima manfaat.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu membuat Program Makan Bergizi Gratis berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya generasi masa depan Indonesia.
Editor : Kimda Farida