Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kelas Menengah Berpotensi Jadi Rentan Miskin, Indikator Ekonomi Tak Selalu Sejalan dengan Kondisi Riil

Redaksi • Kamis, 11 Juni 2026 | 11:16 WIB
Beberapa kendaraan antri isi BBM di jalur pertalite dan jalur pertamax sepi kendaraan. (Jawa Pos)
Beberapa kendaraan antri isi BBM di jalur pertalite dan jalur pertamax sepi kendaraan. (Jawa Pos)

LombokPost - BIASANYA, dengan Rp 100 ribu, Pertamax di mobil pribadi Sandi Prasetyo bisa bertahan selama tiga hari.

Dia menggunakannya untuk transportasi dari tempat tinggalnya di Kota Probolinggo ke Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Namun, dengan kenaikan harga Pertamax sebesar Rp 3.950 menjadi Rp 16.250 per liter pada Rabu (10/6), dia kini harus menghitung ulang.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.200 dan Pertamax Rp 16.250: Jejak Digital Cuitan Lama Partai Gerindra 'Diserbu' Warganet, Jadi Boomerang Politik?

“Bisa-bisa tiap hari minimal Rp 50 ribu untuk BBM saja. Makin berat pengeluaran,” katanya kepada Radar Bromo Grup Jawa Pos.

Di Lombok Barat, Provinsi NTB, Wahyuningsih, pengguna Pertamax, juga kaget dengan tingginya kenaikan harga tersebut.

“Cukup terasa bagi masyarakat yang sehari-hari menggunakan kendaraan untuk bekerja,” katanya kepada Lombok Post.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik Mulai 10 Juni 2026, Pertalite dan Biosolar Tetap: Ini Daftar Lengkap Tarif Terbaru

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi memperkirakan bahwa kenaikan harga Pertamax bakal mendorong laju inflasi, apalagi di tengah kondisi ekonomi riil yang sedang lesu seiring melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Jumlah kelas menengah akan terus turun, sekarang kan tinggal 17,3 persen,” ungkapnya, kepada Jawa Pos pada Rabu (10/6).

Mereka, lanjut Tulus, dimungkinkan turun kelas dari kelompok menengah menjadi rentan miskin. Apalagi, kelompok ini dianggap cukup mampu sehingga tidak tersentuh jenis bantuan apa pun dari pemerintah.

Baca Juga: Pertamina Naikkan Harga BBM Mulai 10 Juni, Pertamax Tembus Rp 16.250 per Liter

Tulus menambahkan, dalam kondisi saat ini, kelas menengah akan sangat membatasi pengeluaran dan menjadi lebih selektif dalam berbelanja.

Efek makronya tentu akan membuat ekonomi kian lesu. Klimaksnya, kondisi tersebut akan berdampak pada kelas bawah yang semakin tertekan secara ekonomi.

Prinsip Transparansi

Sementara itu, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional Mufti Mubarok menegaskan bahwa setiap kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat harus mengedepankan prinsip transparansi, keadilan sosial, dan perlindungan konsumen.

“Kenaikan yang cukup besar dalam waktu singkat berpotensi menimbulkan guncangan psikologis maupun ekonomi bagi konsumen,” ujar Mufti.

Ia menilai, pemerintah dan badan usaha penyedia energi perlu menyampaikan secara terbuka dasar perhitungan dan alasan kebijakan kenaikan harga. Hal itu agar masyarakat memperoleh kepastian dan pemahaman yang memadai.

Mufti menjelaskan bahwa indikator ekonomi makro tidak selalu sejalan dengan kondisi riil rumah tangga.

“Pertumbuhan ekonomi, stabilitas inflasi, maupun peningkatan investasi belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Ketika harga BBM naik, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat karena memengaruhi biaya transportasi dan harga berbagai kebutuhan pokok,” katanya. (mas/bud/mia/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Inflasi #pertamax #rupiah #konsumen #BBM