LombokPost - TAK ada penjelasan resmi dari istana kenapa Presiden Prabowo Subianto menutup Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Bangkalan.
Padahal, sejak dibuka Sabtu (20/6) pekan lalu, acara sepenuhnya berlangsung di Kabupaten Kediri.
Siaran pers Sekretariat Presiden hanya menyebut, Prabowo berangkat dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk kunjungan kerja ke Madura.
Baca Juga: PDIP Bantah Gerakkan Demo Mahasiswa, Tegaskan Jadi Penyeimbang Pemerintahan Prabowo
Sebelum ke agenda NU, Prabowo terlebih dulu ke Kabupaten Sampang untuk meresmikan proyek jalan.
Dari pihak panitia, Sekretaris Steering Committee Munas-Konbes NU M. Nuh menyebut, Bangkalan dipilih karena punya nilai historis yang kuat bagi NU. Sebab, di Bangkalan dimakamkan KH Muhammad Kholil Bangkalan, guru KH Hasyim Asyari, sang pendiri NU.
“Kami ingin mengawinkan antara agenda organisasi dengan aspek kesejarahan NU yang tidak bisa dilepaskan dari Bangkalan dan Syaikhona Kholil," kata Nuh.
Kunjungan ke Kediri
Semasa menjabat presiden, KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid pernah datang ke Kediri pada 21 November 1999 untuk membuka Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo.
Jauh sebelumnya, Soekarno, presiden pertama Indonesia, tercatat beberapa kali ke Kediri, terakhir sekitar 1965.
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden keenam, tercatat pernah mengunjungi Kediri pada 2007 dan 2014 untuk urusan penanganan bencana.
Tapi, konon, SBY tidak pernah menyeberangi Sungai Brantas menuju pusat kota.
Sementara itu, dalam pidatonya di Bangkalan, Prabowo mengungkapkan, kedekatannya dengan NU sejak kecil.
Dia menyebut, keluarganya memiliki hubungan erat dengan organisasi tersebut karena sang kakek merupakan bagian dari NU.
Selain itu, dia juga memiliki kedekatan dengan Gus Dur. ”Kakek saya orang NU, jadi saya tahu betul dan dekat dengan organisasi ini,” tuturnya, seperti dikutip dari Radar Madura Grup Jawa Pos Selasa (23/6).
Prabowo mengaku bangga dan terhormat dapat menghadiri penutupan Munas dan Konbes NU. Bahkan, di hadapan ribuan jemaah, dia menyebut, dirinya masih harus banyak belajar dari NU.
“NU selalu ada di mana-mana. Bahkan, di hampir semua partai politik ada kader NU. Kalau belajar politik, sebenarnya harus belajar ke NU,” ujarnya. (za/han/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online