LombokPost - BUPATI Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengaku khawatir kasus meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha berdampak terhadap minat tenaga kesehatan untuk bekerja di kabupaten yang dia pimpin.
Dia juga mengenang dokter berusia 27 tahun itu sebagai salah satu putri terbaik daerah yang berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran melalui beasiswa Pemerintah Kabupaten TTU sebelum akhirnya kembali mengabdi di daerah asal.
“Yang kami khawatirkan, ke depan akan banyak dokter tidak mau bertugas di Timor Tengah Utara oleh karena kejadian ini,” ujarnya.
Terpisah, masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai layanan kegawatdaruratan menjadi salah satu sumber persoalan di instalasi gawat darurat (IGD).
Banyak keluarga pasien menganggap seluruh pasien yang datang ke IGD merupakan kasus gawat darurat sehingga harus segera ditangani.
Padahal, dokter memiliki standar objektif melalui sistem triase untuk menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kegawatan pasien.
Baca Juga: Membanggakan, Tiga Dokter RS Mandalika Sabet Juara Neuro Battle 2026
"Semua pasien yang masuk IGD selalu dianggap gawat darurat oleh keluarga. Padahal, dokter harus menilai apakah benar-benar gawat dan darurat, gawat tetapi tidak darurat, atau kondisi lainnya," ujar Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia dr. Adib Khumaidi SpOT ketika dihubungi Jawa Pos Ahad (28/6) terkait kasus meninggalnya dr. Icha.
Di sisi lain, Adib mengungkapkan, masih adanya keterbatasan distribusi obat-obatan emergensi, seperti serum anti-bisa ular maupun vaksin antirabies.
Obat-obat tertentu memang belum tersedia merata di seluruh rumah sakit.
Baca Juga: Puspita Mustika Adya, Dari Koma, Amnesia, sampai ke Dokter Sepeda
Karena itu, dia menilai perlu pemetaan kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan agar proses rujukan dapat berlangsung lebih cepat dan tepat. (lyn/cr6/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online