Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puspita Mustika Adya, Dari Koma, Amnesia, sampai ke Dokter Sepeda

R
Penulis: Redaksi❯
SEMUA DIUKUR: Puspita Mustika Adya bike fitting di kediaman salah satu kliennya. Puspita sudah menjalankan pratik bike doctor sejak 2021. (JAWA POS)
SEMUA DIUKUR: Puspita Mustika Adya bike fitting di kediaman salah satu kliennya. Puspita sudah menjalankan pratik bike doctor sejak 2021. (JAWA POS)

Advertisement

LombokPost - Puspita Mustika Adya mengalami kecelakaan yang membuatnya dioperasi empat-lima kali saat karier kepelatihannya sedang tinggi-tingginya. Tawaran melatih dari luar negeri sebenarnya tetap datang, tapi dia merasa lebih menjadi bike doctor, membantu orang menikmati sepeda.

BALAP sepeda adalah cinta sepanjang masa Puspita Mustika Adya. Dan, hidupnya juga benar-benar seperti roda sepeda yang dia kayuh.

Satu kayuhan membawanya ke titik tertinggi sebagai atlet dan pelatih balap sepeda: langganan juara nasional, medali emas SEA Games, tiket ke Olimpiade, sampai dipercaya menjadi pelatih tim nasional Brunei Darussalam. Di kayuhan berikutnya, dia terempas ke titik terendah: koma, amnesia, lumpuh, dan beberapa kali operasi di kepala.

Tapi, sebagaimana judul novel biografisnya, “Tak Ada Garis Finish”, puluhan tahun menggeluti balap sepeda melatih Puspita menjadi petarung tangguh. Sudah berkali-kali dia mencapai garis finis dan berkali-kali pula memulainya lagi dari nol.

“Menjadi juara butuh pengorbanan,” kata pria kelahiran 28 April 1966 itu kepada Jawa Pos di Surabaya pada Kamis (11/6).

Advertisement

Juara tak selalu berarti medali yang terkalung di leher. Tapi, bisa juga bermakna impian yang tercapai. Atau menjalani jalur hidup yang dikehendaki.

Di usianya yang telah menginjak 60 tahun, Puspita setia di jalan sepeda yang telah dia geluti sejak masih berusia awal belasan tahun pada akhir 1970-an di kota kelahirannya, Malang. Kini ia lebih dikenal sebagai The Bike Doctor. Dokter sepeda.

Dokter yang memeriksa hubungan antara tubuh manusia dan sepedanya. Ia melakukan bike fitting. Mengukur panjang kaki, lebar bahu, panjang lengan, posisi duduk, serta keseimbangan tubuh kanan dan kiri.

Menurutnya, banyak orang membeli sepeda mahal, tapi mengabaikan faktor terpenting: tubuh pengendaranya.

“Karena itu, sepeda harus menyatu dengan tubuh pemiliknya. Kalau tidak seimbang, risiko cedera meningkat. Kalau tidak sesuai anatomi tubuh, tenaga terbuang percuma,” katanya.

Advertisement
Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Balap Sepeda Liar di Lombok Timur Sulit Ditertibkan

Balap Sepeda Liar di Lombok Timur Sulit Ditertibkan

Fenomena balap sepeda liar di kalangan anak-anak dan remaja di Lombok Timur, semakin marak dan meresahkan warga Karena dilakukan di jalan

Podium Dua di MotoGP Ceko, Ogura Angkat Citra Pembalap Asia di MotoGP

Podium Dua di MotoGP Ceko, Ogura Angkat Citra Pembalap Asia di MotoGP

Ai Ogura berhasil finis di posisi kedua MotoGP Ceko di Sirkuit Brno, Minggu (21/6), Rookie asal Jepang itu tampil impresif.

Srikandi PLN NTB Edukasi Mahasiswa Unram soal Pencegahan Kekerasan Seksual dan Peluang Karier PLN

Srikandi PLN NTB Edukasi Mahasiswa Unram soal Pencegahan Kekerasan Seksual dan Peluang Karier PLN

Srikandi PLN NTB edukasi mahasiswa Unram tentang pencegahan kekerasan seksual, lingkungan aman, dan peluang karier.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer