Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Era B50 Resmi Dimulai, Pertamina Salurkan 37,92 Juta Liter B50

Redaksi • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:07 WIB
SULITNYA CARI SOLAR: Sejumlah kendaraan besar mengantre BBM jenis Bio Solar di SPBU Jenggolo, Sidoarjo, Kamis (25/6). Antrean mencapai 400 meter, menyebabkan bottleneck sehingga arus lalu lintas tersendat. (JAWA POS)
SULITNYA CARI SOLAR: Sejumlah kendaraan besar mengantre BBM jenis Bio Solar di SPBU Jenggolo, Sidoarjo, Kamis (25/6). Antrean mencapai 400 meter, menyebabkan bottleneck sehingga arus lalu lintas tersendat. (JAWA POS)

LombokPost - PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mulai mendistribusikan biodiesel B50 secara bertahap ke seluruh Indonesia.

Penyaluran dilakukan setelah seluruh 126 terminal bahan bakar minyak (BBM) milik perusahaan pelat merah tersebut dinyatakan siap melayani distribusi bahan bakar campuran 50 persen solar dan 50 persen bahan bakar nabati berbasis sawit itu.

"Kesiapan infrastruktur distribusi menjadi langkah awal implementasi program mandatori B50 yang dicanangkan pemerintah," ujar Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun, Rabu (1/7).

Baca Juga: BBM Baru B50, Lompatan dengan Banyak Catatan: B50 Bisa Hemat Devisa Negara hingga Rp 48 Triliun

Dari Surabaya, Guru Besar Departemen Teknik Mesin ITS Prof. Bambang Sudarmanta mengingatkan pentingnya kesiapan mesin dan sistem bahan bakar sebagai faktor utama agar implementasi B50 tidak menimbulkan persoalan teknis.

Menurut Bambang, karakteristik biodiesel berbeda dengan solar fosil sehingga memengaruhi proses pembakaran, performa, hingga umur komponen mesin.

"Karena itu, penerapan B50 harus dibarengi pendekatan berbasis rekayasa mesin, bukan sekadar kebijakan," kata Bambang kepada Jawa Pos.

Baca Juga: Dijual Penuh Mulai Oktober, Pemerintah Belum Umumkan Harga Jual B50

Distribusi tahap awal dilakukan melalui produk biosolar dan dexlite yang disalurkan ke seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum serta Agen Penyalur Minyak Solar milik Pertamina. Penyaluran dilakukan secara bertahap mengikuti ketentuan yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pada hari pertama implementasi Rabu (1/7), Pertamina Patra Niaga menargetkan penyaluran B50 mencapai 37,92 juta liter. Selanjutnya, volume distribusi secara nasional akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 87,27 juta liter per hari seiring berlangsungnya masa transisi dari B40 menuju B50.

"PT PPN akan menyiapkan B50 sejumlah 87,27 juta liter per hari untuk disalurkan secara nasional," kata dia.

Baca Juga: Hemat Rp 48 Triliun! Pemerintah Percepat B50 Mulai Juli 2026, Stok BBM Nasional Aman Terkendali!

Pemerintah memberikan masa transisi sekitar tiga bulan agar badan usaha dapat menghabiskan stok biodiesel B40 yang masih tersedia sebelum seluruh distribusi beralih ke B50. Dengan skema tersebut, seluruh SPBU di Indonesia ditargetkan telah menyalurkan B50 secara penuh mulai 1 Oktober 2026.

Masa Jeda

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, meski implementasi B50 telah dimulai, pemerintah belum menetapkan harga khusus untuk produk tersebut. Menurut Laode, mekanisme penentuan harga tetap mengacu pada formula harga minyak solar yang berlaku saat ini.

"Kan hitungannya diesel, kayak harga solar. Enggak ada jauh dekatnya, enggak ada," jelas Laode.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menambahkan, masa transisi diperlukan mengingat proses pencampuran biodiesel melibatkan sekitar 30 badan usaha bahan bakar nabati, dengan porsi terbesar berada di Pertamina dan AKR.

Mengenai harga, Eniya menyebut, pemerintah memastikan formula penetapannya tetap mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2024 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak. Dalam regulasi tersebut, harga jual minyak solar dihitung berdasarkan komponen harga dasar yang meliputi biaya perolehan, distribusi, penyimpanan, dan margin, ditambah PPN, dikurangi subsidi sesuai APBN, serta ditambah Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

Berdasarkan situs resmi Pertamina Patra Niaga, harga solar subsidi atau biosolar di seluruh SPBU Pertamina saat ini masih dipatok Rp 6.800 per liter. Harga tersebut berlaku secara nasional.

Densitas Lebih Tinggi

Sementara itu, Bambang menjelaskan, biodiesel memiliki densitas dan viskositas lebih tinggi dibandingkan diesel fosil. Densitas yang lebih besar membuat massa bahan bakar yang masuk ke ruang bakar meningkat, sedangkan viskositas tinggi menyebabkan proses pengabutan bahan bakar menjadi kurang sempurna.

"Hal itu akan menghasilkan ukuran droplet yang lebih besar dan penyebaran partikel tidak homogen," katanya.

Kondisi itu membuat pencampuran bahan bakar dan udara menjadi kurang optimal. Dampaknya, proses penguapan melambat sehingga memicu terbentuknya deposit dan meningkatkan emisi partikulat yang dapat menurunkan efisiensi pembakaran.

"Dapat menurunkan kualitas pembakaran sekaligus memengaruhi kinerja mesin," ucapnya.

Bambang juga menyoroti sifat higroskopis biodiesel yang mudah menyerap air selama penyimpanan maupun distribusi. Kandungan air yang tinggi dapat memicu pertumbuhan bakteri dan jamur sehingga mempercepat korosi, menyumbat filter, serta menurunkan kualitas bahan bakar.

"Fenomena itu dapat menyebabkan kegagalan sistem bahan bakar, terutama pada injektor dan pompa tekanan tinggi," ungkap dia.

Untuk mengantisipasi persoalan itu, dia menyarankan pengendalian kadar air melalui sistem penyimpanan tertutup, penggunaan pemisah air pada bahan bakar, serta pemantauan kualitas bahan bakar secara berkala. Langkah itu penting untuk menjaga keandalan sistem bahan bakar pada kendaraan maupun mesin industri.

Selain itu, kandungan metil ester jenuh dalam biodiesel berpotensi membentuk kristal pada suhu rendah. Gumpalan tersebut dapat menyumbat filter bahan bakar sehingga aliran bahan bakar terganggu dan mesin sulit dihidupkan.

Bambang mendorong penggunaan aditif, penyesuaian sistem injeksi dan ruang bakar, serta pemanfaatan sensor untuk memantau kondisi mesin secara berkala. "Pendekatan tersebut diperlukan agar implementasi B50 berjalan andal tanpa mengorbankan performa mesin," katanya. (bry/dho/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#B50 #Konservasi #penyaluran #pertamina #BBM