Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ada Ancaman Bom saat MPLS, Murid Dipulangkan Lebih Awal

Redaksi • Selasa, 14 Juli 2026 | 12:26 WIB
ANCAMAN BOM: Gegana Brimob Polda Metro Jaya melakukan penyisiran setelah adanya ancaman dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta, Senin (13/7). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
ANCAMAN BOM: Gegana Brimob Polda Metro Jaya melakukan penyisiran setelah adanya ancaman dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta, Senin (13/7). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

LombokPost - Bel berbunyi bukan untuk memulai pelajaran, melainkan menjadi penanda berakhirnya hari pertama sekolah lebih cepat dari yang direncanakan. Di tengah semangat mengenakan seragam baru dan berkenalan dengan teman sekelas, ratusan murid SDN Srengseng Sawah 15, Jakarta Selatan, justru harus pulang dengan iring-iringan polisi, anjing pelacak, dan tim penjinak bom. Masa pengenalan yang semestinya dipenuhi tawa berubah menjadi hari penuh kecemasan.

Suasana ceria menyelimuti halaman SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin pagi (13/7). Murid-murid baru tampak antusias mengikuti upacara pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sebagian masih menggenggam tangan orang tua, sebagian lain sibuk memperhatikan guru yang memperkenalkan lingkungan sekolah.

Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Di tengah jalannya upacara, seorang guru menerima pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal. Isinya mengagetkan. Pengirim mengancam akan meledakkan sekolah dan mengaku telah menempatkan bahan peledak di 11 titik.

Baca Juga: Ratusan Murid Ikuti MPLS SRD 3 Lotim

Pihak sekolah memilih tidak mengambil risiko.

Tanpa menimbulkan kepanikan, para guru mulai mengatur agar seluruh siswa dipulangkan lebih awal. Guru-guru berusaha menjaga suasana tetap tenang agar anak-anak tidak mengetahui ancaman yang sedang dihadapi. Tak lama kemudian, kawasan sekolah berubah drastis.

Tim Gegana Brimob Polda Metro Jaya datang disusul personel Densus 88, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), serta unit K-9 dengan anjing pelacak. Garis polisi dipasang mengelilingi sekolah. Jalan menuju lokasi ditutup. Aktivitas belajar pun berhenti total.

Baca Juga: Siswa Sekolah yang Digagas Presiden Prabowo, SRMA 38 Lotim Mulai Ikuti MPLS

Selama hampir empat jam, petugas menyisir setiap sudut sekolah, mulai ruang kelas hingga area terbuka. Hasilnya, tidak ditemukan benda mencurigakan ataupun bahan peledak.

Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi mengatakan penyidik telah mengantongi identitas terduga pelaku. Polisi kini memburu pengirim pesan sekaligus mendalami motif di balik ancaman tersebut.

Guru kelas V, Subekhi, mengungkapkan bahwa pesan ancaman diterima saat upacara masih berlangsung. Setelah mendapat arahan dari kepolisian, seluruh murid dipulangkan demi keselamatan.

Baca Juga: 668 Siswa Baru SMKN 3 Mataram Jalani MPLS Ramah, Tanamkan Nilai Sejak Hari Pertama

"Anak-anak tetap kami kumpulkan di lapangan sampai ada keputusan dari polisi. Setelah itu mereka dipulangkan," ujarnya.

Hingga siang, tidak seorang pun diperbolehkan memasuki area sekolah karena proses sterilisasi masih berlangsung.

Sekolah Harus Menjadi Tempat Paling Aman

Ancaman bom itu juga mendapat perhatian pemerintah. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengaku langsung berkoordinasi dengan aparat kepolisian setelah menerima laporan tersebut.

Menurut dia, tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan ancaman bom, terlebih jika menyasar lingkungan pendidikan. "Sekolah adalah tempat yang seharusnya paling aman bagi anak-anak untuk belajar," tegasnya.

Kemendikdasmen mengutuk keras aksi tersebut dan meminta seluruh proses penanganan diserahkan kepada aparat penegak hukum. Kegiatan MPLS di sekolah itu pun dihentikan sementara hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman.

MPLS yang Semestinya Ramah

Ironisnya, pada hari yang sama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti justru meresmikan pelaksanaan MPLS Ramah 2026 di SMKN 2 Singosari, Kabupaten Malang.

Dalam sambutannya, Mu'ti menegaskan bahwa MPLS harus menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan bagi peserta didik. Tidak boleh ada perpeloncoan, senioritas, maupun tindakan yang membuat murid merasa takut.

Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, inklusif, sekaligus tempat setiap anak menemukan potensi terbaiknya.

Kemendikdasmen juga telah menyiapkan Buku Rujukan MPLS Ramah 2026 yang berisi berbagai aktivitas pengenalan sekolah, penguatan karakter, edukasi bahaya narkoba dan judi, hingga pembiasaan budaya sekolah yang sehat dan menyenangkan. (yog/wan/mia/oni/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Anjing Pelacak mpls murid Polisi sterilisasi