LombokPost--Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memaksa destinasi wisata andalan Jawa Timur (Jatim) tersebut ditutup total.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim saat ini tengah menghitung besaran potensi kerugian yang dialami akibat penutupan tersebut.
Kepala Disbudpar Jatim Evy Afianasari mengatakan, penutupan akibat karhutla jelas memukul ekosistem pariwisata lokal. Mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga penyedia jasa pemandu wisata (tour guide).
Namun, lanjut Evy, besaran kerugian belum bisa dipastikan.
“Pihak Balai Besar TNBTS saat ini masih fokus pada pemadaman sehingga kami belum dapat mengonfirmasi data resmi. Namun, gambaran dampaknya bisa terlihat dari lalu lintas kunjungan harian,” kata Evy, Senin (10/8).
Pada hari kerja, kunjungan berkisar 1.000 hingga 2.000 orang per hari, sedangkan pada masa liburan bisa mencapai 6.000 orang per hari.
Sesuai tarif resmi TNBTS, harga tiket masuk wisatawan nusantara dipatok Rp 54 ribu (hari kerja) dan Rp 79 ribu (hari libur).
Sementara itu, tarif wisatawan mancanegara (wisman) mencapai Rp 225 ribu per orang. Padahal, Agustus merupakan periode puncak (peak season) kedatangan wisman ke Bromo.
Baca Juga: Api Lalap 315 Ha Lahan Bromo dalam 12 Jam, Semua Pintu Masuk Ditutup Sementara
Pihaknya, kata Evy, tengah mendata seluruh kerugian. Pihaknya juga sedang merumuskan skema intervensi atau program pendampingan yang memungkinkan untuk memulihkan iklim wisata pascapemadaman.
Berangsur Padam
Kebakaran di kawasan sabana Gunung Bromo berangsur padam memasuki hari kedelapan, Senin (10/8).
Namun, tim gabungan masih melakukan penanganan dan pendinginan di dua titik yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan.
Danrem 083/Bdj selaku Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, api sempat kembali terlihat Ahad (9/8) malam.
Namun, Senin (10/8) pagi kondisi api berangsur padam.
Dua titik yang menjadi fokus pendinginan adalah kawasan P30 (Pundak Lembu), Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, dan Lembah Dingklik, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
“Kedua titik itu rembetan dari kebakaran sebelumnya,” katanya.
Penanganan dilakukan melalui pemadaman dari udara menggunakan dua unit helikopter untuk melakukan water bombing.
Meski masih ditemukan asap dan titik api kecil, kondisi secara umum dinyatakan aman dan terkendali.
Baca Juga: Kebakaran Bromo Jadi Atensi BNPB, 50 Hektare Vegetasi Hangus
Petugas masih disiagakan selama 24 jam.
Patroli dilakukan secara rutin, baik melalui jalur darat maupun menggunakan drone untuk memantau kawasan yang sulit dijangkau.
Wahyu menyebut, dari total sekitar 742 hektare kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang terdampak kebakaran, titik api aktif saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 10 persen, yaitu di P30 dan Lembah Dingklik.
“Ini hanya sisa titik-titik kecil, sekitar 10 persen, yakni di dua titik tadi. Tapi, kami tetap waspada dan siaga,” katanya.
Kapolsek Tosari Iptu Sumbut Pujaningwang menambahkan, api memang sempat merambat dan membakar kawasan Penanjakan di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Panjang lokasi yang terbakar mencapai sekitar tujuh kilometer.
Menurutnya, api yang membakar Penanjakan terjadi sejak Ahad (9/8) sekitar pukul 12.00.
“Sejak pukul 13.00, Senin (10/8), api mulai mereda. Namun, petugas masih melakukan upaya pemadaman dan tetap mengantisipasi agar tidak menyebar luas,” terangnya.
Penyelidikan Penyebab
Sementara itu, proses penyelidikan terkait penyebab kebakaran juga masih berlangsung. Aparat penegak hukum terus mengumpulkan informasi untuk memastikan sumber awal api.
“Kami tidak ingin berburuk sangka. Apakah itu dari wisatawan atau penduduk sekitar,” terang Wahyu.
Kalau faktor alam, kata Wahyu, kecil kemungkinannya. Sebab, meski kondisi vegetasi di kawasan Gunung Bromo kering, suhu udara di kawasan tersebut masih relatif dingin. (ian/gus/zen/hn/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda FaridaSumber : Jawa Pos