Kali ini, mereka menghadirkan film bertajuk “Yang Terluka”, sebuah drama thriller yang menyoroti kisah kelam di balik maraknya kekerasan seksual berbasis digital terhadap perempuan.
Di era serba digital, ketika media sosial menjadi ruang bebas berbagi informasi, banyak perempuan justru menjadi korban penyalahgunaan teknologi.
Tubuh mereka dieksploitasi, harga diri dirampas, dan suara mereka sering kali tenggelam dalam sistem yang lebih berpihak kepada pelaku.
“Film Yang Terluka berangkat dari realitas sosial yang menyakitkan. Banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual digital harus menanggung luka yang dalam tanpa keadilan,” beber sutradara sekaligus penulis naskah film tersebut, Rico Michael dalam acara Ramah Tamah Media di Jakarta, Sabtu (11/10).
Rico menjelaskan, film ini lahir dari kebutuhan akan representasi perempuan yang lebih adil dan berdaya.
Inspirasi cerita diambil dari berbagai kisah nyata yang sempat mengguncang publik mulai dari kasus tragis seorang perempuan di Malang yang mengakhiri hidupnya setelah video pribadinya tersebar, hingga ancaman dan pemerasan terhadap siswi SMA di Kalimantan Barat oleh mantan kekasihnya.
Tak ketinggalan, fenomena konten deepfake yang melibatkan sejumlah selebriti perempuan juga menjadi salah satu latar yang menguatkan ide pembuatan film ini.
“Komnas Perempuan mencatat masih banyak laporan kekerasan digital yang tak kunjung mendapat penyelesaian. Dari realitas itulah Yang Terluka menemukan suaranya,” tambah Rico.
Baca Juga: Umrah Mandiri Ada Plus dan Minusnya, Cuma Rp 20 Jutaan Bisa Mampir Kulineran
Sementara itu, Donnie Sjech, produser Yang Terluka, mengungkapkan film ini akan menampilkan deretan aktor dan aktris papan atas.
Seperti Vinessa Inez, Dennis Adhiswara, dan Chika Waode, yang sebelumnya juga terlibat dalam film perdana P69, Dalam Sujudku.
Selain itu, film ini juga akan dibintangi Dwi Sasono, Rifky Balweel, Fanny Ghassani, Jinan Safa, Sari Koeswoyo, dan Gibran Marten.
Menurut Donnie, Yang Terluka bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah karya yang membawa pesan sosial yang kuat.
“Film ini adalah panggilan nurani untuk mengubah cara pandang terhadap perempuan. Kami ingin menegaskan bahwa rasa malu bukan milik korban, melainkan pelaku. Tubuh dan martabat perempuan tidak boleh menjadi alat penghakiman,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Yang Terluka” diharapkan mampu menjadi ruang refleksi, empati, sekaligus percakapan publik yang membangun kesadaran.
“Setiap cerita yang hadir di layar membawa suara yang menunggu untuk didengar dan luka yang patut disembuhkan,” tutup Donnie.
Editor : Kimda Farida