LombokPost - Publik dihebohkan oleh curahan hati mendalam yang disampaikan oleh model Helwa Bachmid melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam serangkaian unggahan yang menyita perhatian warganet, Helwa Bachmid mengungkap kisah pernikahan siri yang ia jalani selama satu tahun dengan ulama kontroversial, Habib Bahar bin Smith.
Curhatan tersebut memaparkan dugaan ketidakadilan, tekanan emosional, dan minimnya perlindungan yang Helwa Bachmid rasakan sepanjang hubungan dengan Habib Bahar bin Smith.
Kisah ini menjadi viral setelah Helwa Bachmid mempublikasikan bukti percakapan dan foto cincin pernikahan, sekaligus menyatakan bahwa setahun menikah siri dengan Habib Bahar bin Smith.
Helwa Bachmid justru merasa lebih banyak tersakiti ketimbang dicintai.
Kondisi ini mendorongnya untuk memberanikan diri menyuarakan pengalaman pahit yang selama ini Helwa Bachmid simpan rapat-rapat.
Kisah Awal dan Janji yang Tak Terpenuhi
Helwa Bachmid membeberkan bahwa landasan awal hubungan mereka adalah keyakinan yang diberikan oleh Habib Bahar bahwa ia telah berpisah atau bercerai dari istri pertamanya.
Helwa Bachmid menunjukkan tangkapan layar percakapan yang mengindikasikan pengakuan tersebut, bahkan memuat permohonan cerai yang dikirimkan oleh sang ulama.
Keyakinan inilah yang membuat Helwa Bachmid, setelah sempat menolak, akhirnya bersedia menerima lamaran tersebut.
Namun, kenyataan yang Helwa Bachmid hadapi setelah akad nikah jauh dari yang ia harapkan.
Helwa Bachmid mengaku dinikahi secara siri (tidak tercatat negara) tanpa mahar yang layak.
Helwa Bachmid menyebut mahar hanya berupa cincin seberat dua gram dan tanpa adanya buku nikah resmi.
Merasa Tertekan dan Dijadikan 'Istri Cadangan'
Selama satu tahun menjalani pernikahan siri yang dimulai pada 15 November 2024, Helwa Bachmid mengaku posisinya sebagai istri tidak pernah dihargai.
Helwa Bachmid mengungkapkan bahwa dirinya merasa seperti “istri cadangan” atau istri yang hanya ditemui ketika suami berkehendak untuk melakukan hubungan suami istri, sementara keberadaannya tidak diakui secara publik.
Tekanan mental yang dirasakan Helwa Bachmid semakin berat karena nafkah yang diberikan tidak menentu, sepenuhnya bergantung pada kemauan suami.
Helwa Bachmid juga merasa minim perhatian dan bimbingan agama, padahal aspek spiritual seharusnya menjadi pilar utama dalam pernikahan dengan seorang ulama.
Puncak rasa kecewa dan pengkhianatan terjadi ketika Habib Bahar bin Smith dikabarkan kembali kepada istri sebelumnya, padahal Helwa menikahinya atas dasar kepercayaan bahwa ulama tersebut telah berpisah.
Peristiwa ini membuat Helwa Bachmid merasa hubungannya selama ini tidak memiliki fondasi dan status yang jelas.
Kronologi Pernikahan Siri Tanpa Perlindungan
Pernikahan Helwa Bachmid dan Habib Bahar bin Smith dilangsungkan hanya berdasarkan agama, tanpa legalitas negara, dan tanpa kejelasan terkait mahar yang memadai.
Helwa Bachmid bahkan menyebut bahwa akad terasa janggal karena tidak dihadiri oleh saksi dari pihak keluarganya secara lengkap.
Seiring berjalannya waktu, hubungan yang disembunyikan itu semakin memudar dan dipenuhi tekanan emosional.
Ketidakjelasan status ini menjadi masalah krusial, Helwa Bachmid menilai pernikahan tersebut tidak memberinya perlindungan hukum maupun sosial.
Helwa Bachmid merasa sering ditinggalkan, tidak diakui statusnya di depan publik, dan menghadapi kegelisahan serta kesepian dalam kesehariannya.
Keputusan Habib Bahar bin Smith untuk kembali kepada istri terdahulu menjadi pukulan telak yang membuat Helwa Bachmid akhirnya memutuskan untuk bersuara ke publik.
Curhatan pilu ini menyoroti realitas pahit dan kerentanan posisi istri dalam pernikahan siri yang dijalankan tanpa fondasi hukum yang kuat.
Publik kini menantikan langkah selanjutnya dari Helwa Bachmid, serta potensi klarifikasi atau tanggapan resmi dari pihak Habib Bahar bin Smith, seiring mencuatnya kisah rumah tangga yang selama ini tertutup rapat.***
Editor : Fratama P.