Drakor 'The Remarried Empress'yang diadaptasi dari Webtoon populer Naver dengan judul yang sama ini memicu reaksi terbelah di kalangan penonton, menciptakan gelombang debat panas antara rasa "janggal" dan "ekspektasi tinggi".
Cuplikan gambar dan video pratinjau Drakor 'The Remarried Empress' yang beredar memperlihatkan kemegahan kekaisaran fiktif yang terinspirasi dari arsitektur dan mode Eropa Barat abad pertengahan.
Visualisasi Kekaisaran Timur dalam Drakor 'The Remarried Empress' ini tampil begitu kontras dengan latar drama Korea pada umumnya.
Dalam cuplikan tersebut, Shin Min Ah tampil memukau sebagai permaisuri dengan gaun putih bersih yang elegan, didampingi iring-iringan dayang di latar istana yang megah.
Di sisi lain, Lee Jong Suk yang memerankan karakter Heinrey, tampak gagah dalam balutan seragam militer berhias khas bangsawan Eropa, berdiri di tengah aula yang penuh dengan pejabat istana.
Meskipun kualitas produksi (mise-en-scène) terlihat sangat mewah dan mahal, netizen Korea dan internasional justru terjebak dalam perdebatan mengenai "sensasi visual" yang dihasilkan:
Sebagian netizen merasa penggunaan latar dan kostum Barat oleh aktor Korea terasa kurang alami. "Rasanya seperti melihat cosplay tingkat tinggi," tulis salah satu komentar.
Netizen lain menambahkan bahwa mendengar aktor Korea saling memanggil dengan nama Barat dalam latar tersebut masih terasa canggung.
Di sisi lain, banyak yang memuji keberanian tim produksi. "Visualnya lebih baik dari ekspektasi saya, terasa seperti Bridgerton versi Korea," puji seorang penggemar.
Penggunaan anggaran yang besar terlihat jelas dari detail kostum yang rumit, meningkatkan antisipasi bahwa ini akan menjadi standar baru genre fantasi romantis (fanrom).
'The Remarried Empress' memiliki basis penggemar yang sangat masif di webtoon maupun webnovel.
Ceritanya yang berfokus pada intrik aristokrat, pesta dansa kerajaan, dan budaya istana Barat yang kaku memang sejak awal diprediksi sulit diadaptasi ke dalam live-action tanpa terlihat "berlebihan".
Nama-nama karakter asli seperti Navier dan Heinrey tetap dipertahankan, yang oleh sebagian kritikus dianggap sebagai potensi hambatan bagi penghayatan penonton lokal.
Namun, bagi pencinta genre fantasi romantis, elemen-elemen "asing" inilah yang justru menjadi daya tarik utama.
Terlepas dari pro dan kontra yang ada, 'The Remarried Empress' menunjukkan tren pra-rilis yang tidak biasa. Polarisasi pendapat ini justru membuktikan betapa besarnya perhatian publik terhadap proyek ini.
Jika Disney+ berhasil mengeksekusi transisi dari komik ke layar kaca dengan apik, drama 'The Remarried Empress' diprediksi tidak hanya akan menjadi hits, tetapi juga membuka pintu bagi kemungkinan kreatif baru dalam industri drama Korea untuk mengeksplorasi latar dunia fantasi Barat secara lebih luas.
Editor : Redaksi Lombok Post