Ia membantah anggapan sebagian orang yang menyatakan ODGJ kebal dari virus Korona, sehingga tidak perlu dilindungi. ”Pandangan itu jelas salah besar,” katanya.
Covid-19, kata Eka, menyerang manusia tanpa terkecuali, tidak pandang usia, jenis kelamin, status sosial, termasuk kondisi kejiwaan. Pandangan-pandangan yang keliru di tengah masyarakat seperti itu menurutnya perlu diluruskan. ”Sebelumnya juga ada anggapan anak tidak kena virus, itu juga salah,” katanya.
Khusus lima pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma, Selagalas yang terkonfirmasi positif, Eka menyebut, dua orang di antaranya terinfeksi dari klaster Gowa. ”Dari Lombok Barat satu orang, dari KLU satu orang, itu tertular dari klaster Gowa,” katanya.
Tiga orang lainnya, tidak diketahui siapa yang menulari. Mereka berasal dari Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.
Semuanya baru diketahui positif covid-19 setelah RSJ mulai melakukan pemeriksaan setiap pasien yang masuk. ”Bukan pasien yang di dalam, tapi baru masuk, cuma mereka juga langganan RSJ,” katanya.
Mereka kini semua dirawat di ruang isolasi untuk penanganan lebih intensif. Selain itu, semua orang yang pernah kontak dengan pasien ODGJ juga dilacak. Jumlah orang yang dilacak sudah ratusan dari lima orang tersebut. ”Termasuk petugas lapangan yang membawa pasien juga reaktif saat rapid test,” katanya.
Penanganan pasien Covid-19 ODGJ, kata Eka cukup menantang, karena mereka tidak bisa ditanya pernah bertemu dengan siapa saja. ”Kalau kesembuhan tergantung kondisi seseorang,” katanya.
Dengan kondisi itu, Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Covid-19 NTB H Lalu Gita Ariadi meminta warga tetap waspada. Tidak ada orang yang kebal dengan virus tersebut. Penularan semakin sulit dikendalikan dan pembawa virus sulit dilacak. ”Kuncinya ada empat. Disiplin, disiplin, disiplin, dan disiplin,” tegasnya. (ili/r5)
Editor : Administrator