”Kita melakukan penyesuaian karena situasi pandemi,” kata Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah usai rapat koordinasi penanganan kemiskinan di kantor gubernur NTB, Rabu (16/9).
Dampak pandemi Covid-19, kata Rohmi, tidak pernah diduga sebelumnya. Hal itu mempengaruhi perekonomian secara global, nasional, dan regional. Akibatnya, angka kemiskinan di NTB justru bertambah. BPS NTB merilis, persentase kemiskinan naik menjadi 13,97 persen. Padahal tahun lalu hanya 13,88 persen.
Dengan situasi itu, pemprov pun mengubah target-target pembangunan di dalam RPJMD. Termasuk di dalamnya target penurunan angka kemiskinan. Angka penurunan tidak lagi muluk-muluk, tapi disesuaikan dengan kondisi saat ini.
”Tapi mudah-mudahanlah semua tetap bagus. Kita harus tetap optimis,” kata Rohmi.
Dengan situasi yang tidak mudah ini, Rohmi, selaku ketua tim koordinasi penanggulangan kemiskinan (TKPD) NTB meminta OPD terkait dan pemerintah kabupaten/kota melakukan upaya yang menohok dan tepat sasaran.
”Parameter yang menentukan kemiskinan harus itu harus diperhatikan, sehingga apa yang dilakukan benar-benar nyambung,” katanya.
Apa yang dilakukan pemprov selama ini menurutnya sudah tepat. Tinggal diintensifkan lagi dan tetap bekerja sama dengan BPS. Koordinasi dengan BPS sangat penting sehingga program OPD sejalan dengan indikator yang dinilai BPS.
Salah satu yang terus diperbaiki saat ini adalah data kemiskinan. Data yang valid sangat menentukan keberhasilan penanganan kemiskinan. Ketika datanya valid, maka bantuan-bantuan yang disalurkan dari pusat akan tepat sasaran.
”Mereka yang berhak menerima, mereka saja yang menerima. Jangan sampai desil 10, orang-orang mampu masih terima raskin, ini kan lucu,” katanya.
Bantuan sosial yang diberikan pusat ke NTB saja mencapai Rp 3,4 triliun. ”Kalau itu semua tepat sasaran kan luar biasa,” tandasnya.
Kepala Bappeda NTB H Amry Rakhman menambahkan, agar angka kemiskinan tidak terus bertambah, pemerintah akan menggenjot aktivitas perekonomian lokal. ”Sehingga pertumbuhan ekonomi kita tidak minus,” katanya.
Stimulus ekonomi dan program pemberdayaan UKM lokal akan digenjot sampai akhir tahun. Jika geliat perekonomian tetap bagus, angka kemiskinan bisa ditekan meski tidak banyak. (ili/r5)
Editor : Baiq Farida