Dikatakan, tahun ini taman budaya baru menyelenggarakan pagelaran bersama 57 sanggar atau kelompok hingga 27 Oktober 2020. Tahun ini tersisa enam kegiatan yang belum dilaksanakan dan telah terjadwal hingga akhir tahun 2020.
”Tetapi walaupun menyelenggarakan pagelaran dengan tatap muka, protokol kesehatan Covid-19 tetap kami lakukan,” jelasnya.
Manan menerangkan, pagelaran rutin ini tujuannya memberikan ruang kepada sanggar, komunitas, kelompok, dan anak-anak muda. Sehingga pemuda bisa mempertahankan dan membangkitkan kembali budaya-budaya yang akan punah.
Sebab, ke depan taman budaya ingin memberikan ruang, dan anak muda bisa menggaerahkan kembali budaya NTB. NTB sebagai salah satu destinasi wisata yang telah diakui dalam negeri dan luar negeri, tentunya semoga budaya NTB tidak terpengaruh budaya luar. ”Untuk itu perlu pemudanya membangkitkan seni budaya lokal,” tambahnya.
Taman budaya berharap kepada pemuda dan masyarakat yang memiliki sanggar bisa mengakses dan berkomunikasi dengan pihaknya. Ia juga berusaha mencari kesepuluh kabupaten/kota.
”Selama ini banyak sanggar yang tidak pernah terakomodir untuk tampil seperti ini, jadi kita berharap supaya pemuda juga aktif memberikan informasi,” tuturnya.
Bila ada sanggar atau kelompok yang tidak terakomodir untuk sampaikan ke pihaknya. ”Saya bersyukur sekali kalau ada yang bisa memberikan informasi ke kami, karena akses kami buka untuk memberikan ruang berekspresi tersebut. Bisa juga mengenalkan sanggar dan kelompoknya ke kami,” kata dia. (nur/r5/*) Editor : Administrator