”Ini target yang diberikan Kementerian Pertanian untuk tahun ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Muhammad Riadi.
Ada 14 provinsi di Indonesia, salah satunya NTB, yang dijadikan sentra penanaman kedelai nasional. Sehingga bisa mencapai target produksi 1,04 juta ton yang ditetapkan Kementerian Pertanian, untuk lahan seluas 600 ribu hektare. ”Penanamannya nanti dibiayai lewat KUR,” ujarnya.
Lima kabupaten/kota akan menjadi sentra penanaman kedelai di NTB. Yakni, Lombok Tengah, Lombok Barat, Bima, Kota Bima, dan Dompu. Kelima daerah tersebut, diharapkan bisa meningkatkan produksi kedelai di NTB.
Tahun lalu, produksi kedelai NTB cukup rendah. Bahkan luas areal tanamnya hanya di bawah 100 hektare. Kondisi tersebut disebabkan banyak petani di NTB yang memilih untuk menanam jagung.
Riadi menyebutkan, minat petani lokal untuk menanam kedelai masih rendah. Salah satu penyebab, hitungan secara ekonomis antara biaya produksi atau tanam dengan harga jual saat panen yang tak berimbang.
Petani baru akan menanam kedelai jika ada fasilitas benih, ongkos tanam, dan lainnya oleh pemerintah. Sehingga seluruh keuntungan bisa diperoleh tanpa repot mengeluarkan modal yang besar.
Sebagai perbadingan, dengan waktu masa tanam yang sama, keuntungan hingga produktivitas tanaman jagung lebih besar dibanding kedelai. Produktivitas tanaman kedelai hanya sekitar 1,2 ton saja. Sementara jagung bisa dua hingga tiga kali lipatnya.
Apalagi dengan membaiknya harga jagung. Semakin banyak petani beralih ke tanaman yang satu ini. Tidak saja memanfaatkan lahan kedelai. Lahan padi juga direbut untuk penanaman jagung.
”Bahkan ada yang nanam 2-3 kali karena harganya yang cukup menguntungkan bagi petani,” ujarnya.
Kondisi tersebut telah diantisipasi pemerintah. Riadi menyebut ada tiga offtaker yang ditunjuk pemerintah. Antara lain, CV Sedulur Tani Jombang, Gakoptindo, dan CV Jaya Agro Prima.
”Kalau harganya bagus, petani bisa tertarik menanam kedelai,” kata Riadi. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita