Saat ini, pemerintah pusat sedang menyusun strategi mengubah pandemi covid menjadi endemi. Rencana perubahan status tersebut tak lepas dari kondisi kasus covid di Indonesia yang cenderung menurun. Termasuk dengan tingkat keterisian kamar untuk pasien covid di rumah sakit, terus melandai.
Perubahan status ini tentu tidak akan dilakukan dengan tiba-tiba. Kementerian Kesehatan diminta mempertimbangkan dengan hati-hati dan matang. Dengan tetap memperhatikan pendekatan sains, kesehatan, ekonomi, hingga sosial budaya.
Agar bisa cepat berstatus endemi, penurunan angka kasus covid menjadi syarat utama. Untuk itu, diwujudkan dengan berbagai upaya. Seperti kedisiplinan penerapan protokol kesehatan, percepatan vaksinasi, serta konsistensi dalam telusur dan testing untuk setiap kasus covid yang ditemukan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr H Lalu Hamzi Fikri mengatakan, pandemi covid sudah berlangsung dalam dua tahun terakhir. Selama itu pula, masyarakat maupun pemerintah dituntut untuk bisa tetap produktif, namun dengan tetap aman dan sehat.
”Ada adaptasi yang kita lakukan. Sehingga aman, sehat, dan produktif itu bisa diwujudkan,” kata Fikri.
Adaptasi terus dilakukan selama masih ada status pandemi covid. Termasuk bagaimana pemerintah terus mengingatkan masyarakat agar mau divaksin. Juga sudah divaksin pun, diimbau tetap menggunakan masker selama berada di ruang publik.
Fikri menerangkan, adanya kemungkinan re-infeksi covid meski telah divaksinasi, membuat masyarakat harus tetap berhati-hati. Walaupun, ada perbedaan tingkat keparahan dari paparan covid, antara mereka yang telah divaksin dan belum mendapat vaksin.
Untuk mereka yang telah divaksin, jika terkena covid, kebanyakan bergejala ringan maupun tanpa gejala. Hanya sedikit yang harus menjalani perawatan di rumah sakit. ”Yang menunjukkan gejala berat, sampai ke ICU, itu biasanya komorbid dan lansia, yang statusnya belum vaksin,” ujarnya.
Pentingnya vaksinasi di saat pandemi covid, membuat pemerintah terus mendorong masyarakat untuk vaksin. Kata Fikri, bagi yang belum vaksin, dipercepat untuk mendapat vaksinasi dosis satu. Kemudian mereka yang belum dosis kedua, diimbau agar mendatangi fasyankes agar mendapat dosis lengkap.
”Yang tiga bulan setelah dosis dua, itu bisa langsung mendapatkan booster,” kata Fikri.
Hingga 5 Maret, kasus covid aktif di NTB sebanyak 1.690 orang. Angka ini terus menurun, setelah sebelumnya tembus hingga 2.500 kasus di saat munculnya varian covid omicron.
Adapun untuk vaksinasi, sudah 3.720.395 penduduk NTB atau 95,14 persen dari target, yang menerima vaksin dosis satu. Sementara di dosis dua, jumlahnya baru 2.898.546 orang atau 74,12 persen. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita