”Sudah ada solusi. Kalau untuk jangka pendek, salah satunya dengan pelatihan,” kata Zul di pendopo gubernur, Rabu (4/8).
Kondisi Gili Matra diakuinya sangat terbatas, salah satunya soal mobilitas kendaraan bermotor. Sehingga butuh fasilitas penanganan kebakaran yang komprehensif. Serta relawan kebakaran yang bisa bergerak dengan cepat begitu ada kejadian.
Kata Zul, rencana membangun jaringan hidran air sudah ada sejak lama. Namun tak kunjung terealisasi. ”Nanti kami omongin dengan Bupati KLU. Tidak perlu juga ini intervensi pusat, cukup di daerah,” ujarnya.
Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Sahdan mengatakan, solusi jangka pendek akan diambil kedua pemerintah, pemprov bersama Pemda KLU. ”Mengingat ada keterbatasan anggaran,” kata Sahdan.
Pascakebakaran Hotel Jambuluwuk di Gili Trawangan, akhir pekan kemarin, BPBD diketahui telah turun melakukan tinjauan lapangan, Dari hasil komunikasi dengan Pemda KLU dan pelaku usaha pariwisata di Gili Mataram, mitigasi kebencanaan di tiga gili sebenarnya telah dipersiapkan.
Pemda KLU, disebut Sahdan, telah meminta pengusaha maupun masyarakat menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR). Ditambah dengan relawan kebakaran, yang berada di setiap hotel maupun restoran.
Hanya saja, terjadi pandemi covid dari 2019. Pandemi membuat lumpuh pariwisata di tiga gili. Kondisi tersebut akhirnya berdampak juga pada kesiapsiaagaan masyarakat dan pengusaha dalam menghadapi bencana kebakaran.
Seperti yang terjadi pada kebakaran Hotel Jambuluwuk. Kata Sahdan, di TKP kebakaran terdapat dua pompa dan kolam penampung air. Namun, selang untuk menyemprotkan air rupanya tidak cukup panjang untuk menjangkau titik-titik api.
”Masalah-masalah ini yang perlu dibenahi ke depannya,” imbaunya.
Sahdan mengatakan, solusi jangka pendek sedang diupayakan pemerintah. Berupa pelatihan untuk masyarakat maupun karyawan hotel, terkait mitigasi bencana kebakaran. ”Setidaknya tiga bulan sekali,” sebut Sahdan.
Lalu bagaimana dengan solusi jangka panjangnya? Sahdan mengatakan, untuk tiga gili harus dibuatkan sistem pemadam kebakaran komprehensif. Seperti membuat hidran air yang dilengkapi dengan pompa. Kemudian ditempatkan di beberapa titik yang mudah diakses.
Selain itu, Sahdan menyebut perlu juga mempertimbangkan adanya satu unit mobil pemadam kebakaran dan mobil tangki untuk menyuplai air. Namun, mobil tangki bisa juga diganti dengan pompa air yang tersambung di kolam-kolam milik hotel.
”Kalau bicara penanganan kebakaran, butuh pergerakan yang cepat. Tidak bisa lama,” tandas Sahdan. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita