“Bahkan, beberapa daerah juga sudah berkunjung untuk belajar tentang tata kelola wisata halal NTB. Ini sesuai amanat Perda nomor 2 tahun 2016 tentang pariwisata halal," ujarnya, Kamis (30/11).
Selain itu, pihaknya juga tengah mengintegrasi konsep CHSE bagi seluruh usaha pariwisata dan friendly moeslim tourism. Sehingga pariwisata halal di NTB semakin banyak dikenal oleh wisatawan. Di mana peran para pengembang konsep juga perlu dilakukan, tidak hanya sebatas sosialisasi semata.
"Kita terus melakukan sosialisasi dan integritas dengan pihak stakeholder untuk mengembangkan konsep-konsep wisata halal ini sehingga diterima oleh semua pihak," ucap Hasbulwadi.
Meredupnya wisata halal ini, menurut dia, adalah dampak pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir. Serta masih minimnya sertifikasi usaha pariwisata yang berbasis sertifikasi halal. Termasuk masih mahalnya harga tiket pesawat terbang.
"Tahun-tahun berikutnya kita coba genjot kembali. Mulai dari hotel sampai dengan tempat SPA memiliki sertifikasi halal, kita yang sudah baru dua ribuan usaha pariwisata serifikat berbasis halal," jelasnya.
Sementara dari segi sarana dan prasarana, lanjut pria yang dikenal ramah ini, memang belum memenuhi. Disebabkan ada standar minimal yang harus dimiliki oleh usaha pariwisata.
Ia mencontohkan, masih banyak hotel tidak punya penunjuk arah kiblat, Alquran dan pendukung lainnya untuk memenuhi sebagai sarana pendukung pariwisata halal. "Minimal memiliki sarana prasarana yang mendukung pariwisata halal. Supaya ini semakin berkembang," tandasnya. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita