Ridwan menyebut jalur Pusuk rawan bencana longsor. Kejadian terakhir terjadi pada Maret lalu. Berada di wilayah Gunung Malang. Dinas PUPR mencatat setidaknya ada lima titik longsor di wilayah Pusuk.
Longsor di sekitar Gunung Malang menjadi yang terbesar. Mengakibatkan sebagian badan jalan ambrol. Padahal ruas jalan di Pusuk baru saja ditingkatkan kualitasnya melalui Perda Percepatan Peningkatan Jalan dengan nama Rembiga-Pemenang, dengan anggaran mencapai Rp 312 juta.
Kata Ridwan pihaknya tak ingin berdebat panjang. Apakah longsor yang terjadi akibat dari perencanaan proyek yang kurang baik atau disebabkan faktor bencana. ”Kami tidak ingin fokus soal itu. Yang penting, sekarang longsor itu dikerjakan agar aksesibilitas masyarakat tidak terganggu,” ujarnya.
Agar penanganannya bisa lebih maksimal, Dinas PUPR melakukan konsultasi ke ahli. Termasuk ke Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTB yang telah berpengalaman menangani kondisi serupa.
Dari hasil konsultasi tersebut, direkomendasikan untuk menggunakan material geotekstil. Yang merupakan lembaran sintesis tipis, fleksibel, dan berpori, sehingga bisa digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah.
Dinas PUPR pun telah memutuskan untuk memperbaiki longsor dengan menggunakan teknik konstruksi yang disarankan ahli. ”Nanti rekanan itu yang akan mengerjakan. Dengan geotekstil itu diharapkan kejadian yang sama tidak terulang,” sebut Ridwan.
Untuk penanganan longsor di areal Gunung Malang, ditargetkan bisa rampung dalam satu bulan ke depan. Sehingga arus lalu lintas masyarakat dari Mataram menuju Lombok Utara atau sebaliknya, bisa lancar seperti semula.
Ridwan mengatakan, untuk titik longsor lain akan dikerjakan langsung pihaknya pada tahun ini. Dengan kerusakan yang tidak begitu masif, anggaran yang dialokasikan tidak begitu besar. Sekitar Rp 800 juta. ”Tidak sampai Rp 1 miliar yang dibutuhkan,” katanya.
Adapun untuk teknis penanganannya, Ridwan menyebut masih dikaji tim. Apakah nanti akan menggunakan geotekstil atau hanya bronjong untuk menahan beban tanah agar tidak terjadi longsor yang meluas. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita