Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

NTB Diharapkan Jadi Pusat Kain Tradisional di Indonesia, Event Kenari Fashion Street 2023

Halil E.D.C • Senin, 20 November 2023 | 08:21 WIB
Pj Gubernur NTB HL Gita Ariadi dan Pj Ketua Dekranasda NTB Hj Lale Prayatni saat membuka Kenari Fashion Street 2023 di depan kantor gubernur NTB, Sabtu (18/11).
Pj Gubernur NTB HL Gita Ariadi dan Pj Ketua Dekranasda NTB Hj Lale Prayatni saat membuka Kenari Fashion Street 2023 di depan kantor gubernur NTB, Sabtu (18/11).

LombokPost - Kenari Fashion Street (KFS) 2023 sukses digelar. Event yang baru petama kali digelar Pemprov NTB tersebut memamerkan ragam tenun dan batik khas Sasak, Samawa, Mbojo (Sasambo).

“Dengan bangga dan bahagia, saya menyambut dan mendukung diselenggarakannya Kenari Fashion Street ini,” kata Penjabat Gubernur NTB Drs H Lalu Gita Ariadi, M.Si saat membuka KFS di depan kantor gubernur NTB, Sabtu (18/11).

Miq Gite berharap Kenari Fashion Street bisa menjadi kalender event tahunan. Sehingga akan terus meningkatkan penggunaan kain tenun di masyarakat. “Pada akhirnya Provinsi NTB diharapkan dapat menjadi pusat wastra (kain tradisional) di Indonesia,” katanya.

Untuk terus memajukan wastra tradisional NTB yang sangat terkenal, perlu ada kebijakan strategis. Misalnya penyediaan bahan baku hingga keterampilan penenun. 

Karena itu, Miq Gite meminta Pj Ketua TP PKK NTB, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM bersama instansi terkait untuk bergerak bersama sesuai bidang masing-masing.

Ditambahkan, KFS 2023 ini juga sebagai implementasi bela beli produk lokal di NTB, semakin nyata. Selain itu, melalui KFS diharapkan akan dapat meningkatkan kecintaan pada produk kerajinan lokal dengan menampilkan kreativitas desain motif tenun dan mode busana. 

”Event ini diadakan untuk memberikan promosi yang seluas-luasnya terhadap tenun yang ada di NTB, baik Sasak, Samawa, dan Mbojo. Jadi tenun bukan hanya dari Pulau Lombok tapi dari Sumbawa dan Mbojo juga ada,” kata ketua panitia KFS Fathul Gani.

Penjabat Ketua Dekranasda NTB Hj Lale Prayatni mengatakan, KFS dinilai berhasil mendorong antusiasme masyarakat pada produk lokal terutama tenun kriya.

“KFS pertama kali diadakan. Melihat antusiasme masyarakat, kami Dekranasda akan mengusulkan event ini sebagai event rutin tahunan,” ujar Hj Lale Prayatni. 

Ke depan event ini akan terus mengalami penyempurnaan. Terutama berkaitan dengan hasil tenun kriya, motif, dan desainernya. “Oleh karena itu, kita juga mendorong para desainer busana agar merancang busana dengan motif autentik NTB. Tidak harus menggunakan selembar kain yang mahal, cukup kombinasi dengan bahan lain," katanya.

Bunda Lale yakin ajang KFS yang memamerkan busana motif autentik Sasambo di catwalk sepanjang tiga kilometer itu sebagai promosi dan edukasi pada masyarakat tentang kekayaan motif tenun NTB. 

Sementara itu, event KFS diikuti kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Provinsi NTB dan Kota Mataram. Hadir juga perwakilan instansi vertikal, BUMD, instansi perbankan, dan organisasi kemasyarakatan.

Event KFS berlangsung sejak pagi hingga sore. Selain menampilkan fashion show, juga disiapkan bazar UMKM yang menyedian 50 aneka stand dan talkshow. Selain itu sebanyak 80 UMKM dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa menjajakan aneka kuliner, hasil kerajinan, hingga pasar murah. 

Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTB menampilkan enam konsep desain busana dengan ragam kreativitas milik desainer lokal. Di antaranya konsep zero waste dengan desain patchwork (tambal) dari sisa kain songket Lombok Tengah atau kain luaran (outer) dari kulit kayu mahoni dikenalkan desainer Maya Namia.

Ada pula desain kombinasi tenun Lombok, Sumbawa, Bima dengan tema jati diri. Karya Yuni Kinasih ini memperlihatkan mode busana kasual dengan detail sulam sashiku yang dipadukan dengan sarung Nggoli. 

Fery Kuncoro yang menggunakan kain tenun Pringgasela, Yuni Rajut menggunakan tenun Sukarara bertema joyfull kids berwarna cerah yang terinspirasi dari permainan anak anak lompat tali.

Kemudian ada desainer Fitria yang menggunakan kain tenun mesin handwoven bertema pasir. Dan desainer Diah Kahar dengan mode busana bertema feeling blue pada konsep perpaduan tenun Gedogan dan Sulaman bahan terawang serta tenun Gumise dari Lombok Barat. 

Selain model dan desain busana Dekranasda, tampil pula peragaan busana tenun dari Perkumpulan Jasa Boga Indonesia dan IWAPI NTB. Kenari Fashion Street juga mengadakan pemilihan duta sport tourism. (lil)

 

Editor : Haliludin