LombokPost-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB merespons positif, terhadap alokasi anggaran Rp 17 miliar di APBD 2024, untuk perbaikan Masjid Hubbul Wathan Islamic Center.
“Saya melihat kondisi bangunan Islamic Center saat ini, memang harus dilakukan perbaikan,” terang Prof H Saiful Muslim selaku ketua MUI NTB.
Kerusakan parah yang disebabkan gempa bumi tahun 2018 lalu, sampai sekarang belum tertangani.
Dampak dari bencana alam tersebut dirasakan hingga saat ini.
Kondisi paling nyata, terjadi kebocoran di sejumlah titik, berikut dengan plafon bangunan yang sudah ambruk. Lapuk akibat rembesan air hujan.
Menurut dia, revitalisasi ini sangat diperlukan agar keberadaan Islamic Center dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
”Sudah selayaknya dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat,” kata dia.
Di samping itu, revitalisasi Islamic Center, menjadi sesuatu hal yang paling dinantikan.
Sebab, bangunan yang diresmikan tahun 2013, bukan hanya berperan sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat edukasi sekaligus wisata religi di Bumi Gora.
”Kita lihat Islamic Center ini namanya keren, jadi ikon wisata religi di NTB, jangan sampai karena pembiaran kerusakan ini menjadikan sebagai bangunan yang tidak jauh berbeda dengan bangunan masjid di desa. Harus ada sentuhan perbaikan agar lebih memiliki daya tarik,” tandasnya.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB H Jamaluddin Malady menegaskan, dari hasil tinjauannya langsung, sumber segala kerusakan berasal dari jatuhnya Makara kubah Masjid Hubbul Wathan Islamic Center, saat terjadinya gempa bumi yang melanda NTB tahun 2018 lalu.
Pada dasarnya, fungsi Makara sebagai penutup kubah.
Karena jatuh dan rusak, mengakibatkan kubah masjid dalam posisi terbuka. Sehingga hujan, air banyak masuk dan merembes ke arah plafon. Karena tidak kuat menahan beban air, plafon akhirnya jebol.
Karena kondisi tersebut, banyak wisatawan lokal dan mancanegara merasa kurang nyaman berkunjung.
Bahkan umat Islam yang melaksanakan salat di Islamic Center, terutama dalam musim penghujan, selalu mengeluh kondisi bocor tersebut.
”Kami selalu mendengar keluhan ini dari masyarakat,” kata Jamal.
Karenanya, dengan anggaran belasan miliar tersebut, pengerjaan perbaikan mengarah sepenuhnya ke titik-titk kerusakan dan kebocoran di Islamic Center.
Sebagai destinasi wisata unggulan milik Bumi Gora, perhatian terhadap perbaikan Islamic Center, harus diberikan.
Apalagi pemerintah menarik Pendapat Asli Daerah (PAD) dari kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Kepala UPT Pengelola Destinasi Wisata Unggulan Dispar NTB Sahnan mengakui, target PAD tidak pernah tercapai pasca kerusakan akibat gempa.
”Sumber PAD kita setelah gempa itu, yang bisa dimanfaatkan adalah ballroom, ruang VIP dan selasar, setiap tahunnya hanya meraup PAD Rp 150 jutaan,” ujarnya.
Padahal jika Menara 99 berfungsi dengan baik, pihaknya dapat meraup PAD hingga Rp 400 juta.
”Mudah-mudahan dengan adanya perbaikan ini, bisa membuat wisatawan lebih nyaman berkunjung ke Islamic Center, sehingga berdampak pada tercapainya target PAD kita,” pungkasnya. (yun/r11)
Editor : Marthadi