LombokPost-Lima rumah sakit (RS) di Provinsi NTB memiliki sarana prasarana alat kesehatan (SPA) di bawah standar atau di bawah 60 persen. Dengan kondisi tersebut, kelima RS tersebut masih belum bisa memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB dr Lalu Hamzi Fikri mengatakan, ini menjadi tugas pemerintah dalam memenuhi ketersediaan fasilitas di lima rumah sakit tersebut. Sehingga ke depan bisa memberikan pelayanan sesuai standar.
Kelima RS tersebut masing-masing RS Mata NTB, RSK St Antonius, RSAD Sultan Abdul Kahir II Bima, Siloam Hospital Mataram, dan RSIA Bhumi Bunda Lombok Tengah. ”Tahun 2023 ada empat RS, tahun 2024 ada tambahan satu RS sehingga menjadi lima RS,” jelas Fikri.
Dia menerangkan, SPA di bawah 60 persen adalah akumulasi antara. Pemerintah pusat memberikan standar, untuk sarana 50 persen, prasarana 20 persen, dan alkes 30 persen. ”Karena dari pusat menstandarkan minimal kelengkapan 60 persen untuk bisa akreditasi,” jelasnya.
Fikir menegaskan, Pemprov NTB terus berikhtiar meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas maupun kuantitas sarpras dan alat kesehatan di seluruh rumah sakit.
Sementara itu, secara umum, SPA RS di NTB sudah di atas standar nasional, yaitu 70,80 persen. Itu karena dari 45 rumah sakit yang ada di NTB, hanya lima RS dengan SPA di bawah 60 persen.
Di lain kesempatan, Pj Gubernur NTB Lalu Gita Ariadi mengatakan, Bumi Gora juga masih membutuhkan dokter spesialis. Dari seluruh RS di 10 kabupaten/kota, saat ini baru tersedia 531 dokter spesialis. Jumlah tersebut masih sangat jauh dari kebutuhan. ”NTB masih butuh 160 dokter spesialis lagi,” ujarnya.
Gita mengaku, ada beberapa upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis. Di antaranya, dengan mengirimkan 37 orang dokter untuk mengikuti program pendidikan dokter spesialis, merekrut 12 dokter spesialis melalui formasi CPNS dan PPPK.
”Saat ini juga sudah dibuka program studi pendidikan dokter spesialis bedah, obgyn dan spesialis kedokteran kelautan di Unram, dan sejumlah upaya lainnya,” tutupnya. (bib/r11)
Editor : Akbar Sirinawa