Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Duh, Kotoran Manusia dan Ceceran Sampah Rusak Keindahan Wisata Gunung Rinjani

Hamdani Wathoni • Senin, 3 Juni 2024 | 20:37 WIB
INDAH TAPI BANYAK SAMPAH: Pos Pelawangan menjadi salah satu area yang paling banyak dipenuhi sampah dan kotoran manusia selain di area Danau Segara Anak.
INDAH TAPI BANYAK SAMPAH: Pos Pelawangan menjadi salah satu area yang paling banyak dipenuhi sampah dan kotoran manusia selain di area Danau Segara Anak.

LombokPost-Tak diragukan, Rinjani menjadi salah satu gunung tertinggi dan terindah di Indonesia. Bahkan dunia. Ribuan pendaki dari berbagai daerah dan negara datang mendaki puncak Rinjani setiap tahunnya. Sayangnya, keindahan Rinjani ternoda dengan masalah tumpukan sampah dan kotoran para pendaki yang berserakan.

----------------------------

Ratusan pendaki berkumpul di area Kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Resort Sembalun. Dari wajah mereka, terlihat jika para tamu ini berasal dari berbagai negara. Mereka melakukan persiapan untuk check in di loket untuk segera berangkat mendaki Rinjani.

Waktu baru menunjukkan sekitar pukul 08.00 Wita. Area balai TNGR Resort Sembalun mendadak sesak oleh pengunjung dan Trekking Organizer (TO) yang datang membawa tamunya untuk. Proses check in berlangsung cukup alot karena hanya ada dua loket yang tersedia. Satu loket melayani pendaki umum dan satu loket melayani pendaki yang menggunakan jasa TO.

Saat proses check in, tamu juga diberikan list untuk memasukkan daftar barang yang akan dibawanya mendaki. Sehingga saat check out nanti, petugas bisa mengecek sampah barang bawaan mereka. Sistem ini dibuat untuk meminimalisir sampah yang dibawa para pendaki ke atas Rinjani.

Begitu proses check in selesai, pendaki kemudian langsung naik melalui jalur umum yang ada di samping Kantor Balai TNGR Resort Sembalun. Namun sebagian besar memilih mendaki melalui jalur Bawak Nao, Desa Sajang Sembalun.

Di sana, jalurnya lebih dekat dibanding naik melalui jalur umum. Para pendaki akan diangkut oleh mobil pikap sampai ke pintu masuk yang biasa dikenal dengan gerbang Kandang Sapi. Untuk menggunakan jasa angkutan pikap, tamu harus membayar Rp 200 ribu untuk satu rombongan maksimal tujuh orang.

Di lokasi gerbang Kandang Sapi ini, pengunjung yang ingin lebih cepat juga bisa menggunakan jasa ojek sepeda motor untuk menuju pos 2 jalur pendakian Rinjani.

Untuk mendapatkan jasa ojek ini, pendaki juga harus membayar Rp 200 ribu per orang.

Dengan ojek sepeda mnotor, perjanalan pendakian menuju pos 2 yang membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam diringkas dengan waktu 20 sampai 30 menit. Bisa lebih menghemat tenaga juga untuk mendaki menuju pos 3, pos 4 hingga Pelawangan.

Perjalanan menuju pos tiga dari pos dua membutuhkan waktu tiga sampai empat jam. Tergantung kecepatan pendakian masing-masing orang.

Begitu juga dari pos tiga sampai pos empat dan pos empat ke pelawangan. Masing-masing butuh waktu tiga sampai empat jam.

Jalan sepanjang pos dua ke Pelawangan terbilang cukup bagus meski ada beberapa medan yang ekstrem. Namun relatif aman.

Namun perjalanan dari pos tiga ke pos empat yang kerap dikeluhkan pendaki.

Lantaran kondisinya cukup curam. Tak heran lintasan ini dinamakan bukit penyesalan. Medannya sangat melelahkan. 

Namun bukan medan pendakian yang menjadi masalah yang dikeluhkan pendaki Rinjani. Jalur ekstrem dengan kondisi yang curam sudah menjadi persoalan biasa yang dihadapi para pencinta alam.

Yang dikeluhkan para pendaki adalah pintu masuk menuju Pelawangan.

Sekitar sepuluh meter sebelum tiba di Pelawangan, aroma tak sedap yang dibawa hembusan angin menyebar kemana-mana.

Aroma busuk berasal dari kotoran manusia ini bahkan bisa dilihat berjejer di sepanjang jalan menuju Pelawangan. Pemandangan yang bisa dibilang menjijikkan. 

Tak hanya itu, perbedaan pemandangan terlihat begitu drastis di pos 2, pos 3, dan pos 4 dengan Pelawangan.

Di Pelawangan, tumpukan sampah bertebaran disejumlah titik. Pos ini memang paling banyak dipilih untuk berkemah oleh para pendaki.

Lantaran posisinya yang paling dekat dengan puncak Rinjani yang ada di ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut.

Sebagian besar pendaki yang ingin menaklukkan puncak Rinjani akan bermalam dengan membuat tenda di Pelawangan. 

“Di sini yang banyak sampah dan kotoran manusia. Kalau bisa ini diperhatikan,” ujar M Amin, salah satu pendaki asal Malaysia kepada Lombok Post.

Ia menyebut jika Rinjani menjadi salah satu tujuan favorit warga Malaysia yang berlibur ke Lombok.

Keindahan Rinjani menurutnya sebanding dengan medan yang harus ditempuh untuk mendaki serta biaya yang dikeluarkan.

Hanya saja, ia dan rekan-rekannya memberikan catatan terkait sampah dan kotoran manusia yang berserakan di mana-mana.

Hal senada juga diungkapkan Saputra, pendaki asal Palembang.

Ia menyoroti kotoran manusia yang ada di Rinjani menjadi catatan yang harus mendapatkan atensi.

“Kalau terus dibiarkan seperti ini, Rinjani nanti dipenuhi kotoran manusia,” sindirnya.

Ia mendapati kotoran manusia tersebut tercecer dimana-mana.

Bahkan ia mengaku sempat menginjak kotoran yang mengeluarkan bau busuk itu.

“Yang perlu diperhatikan di Rinjani itu sampah dan kotoran manusia ini. Terutama di Pelawangan sama Danau Segara Anak,” kritiknya.

Para pendaki harus mengeluarkan kocek jutaan rupiah untuk bisa menikmati keindahan alam.

Namun harapan mereka menikmati keindahan alam justru dikecewakan oleh kotoran manusia dan sampah yang berserakan.

“Di Danau Segara Anak saya lihat ada fasilitas toilet yang dibangun tetapi sudah rusak dan sepertinya sudah lama tidak dimanfaatkan,” ucapnya kecewa.

Pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani melalui Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGR Budi Soesmadi menanggapi masukan dan kritikan para pendaki terkait sampah dan kotoran manusia.

Ia mengaku jika persoalan sampah dan kotoran manusia ini paling banyak dikeluhkan.

Lantaran sat ini belum ada area tempat melokalisir toilet tenda. 

“Kami masih membuat dokumen site plan, tata letaknya (toilet tenda). Nanti juga ada tata kelola untuk lokasi dapur, hingga lokasi kemping. Kami sedang menyusun itu,” jelasnya.

Seharusnya, para pendaki dijelaskannya membawa toilet tenda seperti yang sudah diterapkan oleh para pengelola Trekking Organizer.

Toilet tenda tersebut memungkinkan para pendaki buang hajat di area tertutup dengan menggali tanah dan mengubur kotorannya.

Sayangnya, tidak semua pendaki menyiapkan toilet tenda dan memilih buang air besar di sembarang tempat. Ini yang kemudian menimbulkan masalah.

“Kami sedang membuat desain bagaimana pola di Pelawangan,” aku Budi, sapaannya.

Pihaknya sebenarnya sudah berencana menyiapkan toilet portabel seperti yang disediakan di Pos 2 Rinjani pendakian jalur Sembalun.

Hanya saja saat ini pihak TNGR kesulitan masalah air. Mengingat kondisi sumber mata air di Pelawangan terganggu semenjak gempa mengguncang Lombok 2018 silam.

Sumber mata air yang semula mengalir deras kini mengucur lebih kecil. Untuk kebutuhan minum para pendaki pun kesulitan.

“Maka ini sedang kami siapkan bagaimana polanya nanti untuk diatur di Pelawangan,” jelas dia.

Sementara untuk sampah dan kotoran manusia di sekitar Danau Segara Anak, diakuinya di area ini memang tersedia air dari danau.

Hanya saja pola untuk mengangkat air dari danau ke toilet masih belum memungkinkan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan.

Mengingat tidak ada pengelola toilet yang standby di area Danau Segara Anak.

Balai TNGR sudah juga sudah membangun toilet di dekat danau, namun hanya beberapa tahun saja bangunan tersebut tidak maksimal dan tidak berfungsi.

Ditanya mengenai penggunaan sistem pompa air tenaga surya, TNGR mengaku akan mempertimbangkan hal tersebut. Terlebih jika memang memungkinkan air diambil dari Danau Segara Anak. 

“Kami belum punya teknologinya. Tapi kalau memang nanti itu bisa (teknologi penyedot air tenaga matahari), kami akan coba apakah bisa mengangkat air dari danau ke tandon untuk toiletnya,” paparnya. 

Rencananya, pihak Balai TNGR juga nantinya akan bekerja sama dengan pihak ketiga baik berupa koperasi hingga dengan melibatkan para TO.

Sementara untuk persoalan sampah, Balai TNGR mengaku sudah bekerja sama dengan Forum Wisata Lingkar Rinjani dan Komunitas Pencinta Alam Mapala. Mereka berkolaborasi untuk melakukan penanganan sampah. 

“Kami secara rutin melakukan clean up untuk mengangkat sampah. Kami bersama Forum Wisata Lingkar Rinjani dan Mapalah melaksanakan kegiatan sosial untuk mengangkut sampah ini secara berkala,” jelasnya.

Upaya membuat daftar list barang bawaan pendaki saat melakukan check in dan pemeriksaan saat check out juga menurutnya dilakukan sebagai upaya meminimalisir sampah.

Hanya saja, kadang upaya ini juga belum maksimal. “Makanya saya katakan ini butuh kesadaran bersama,” jelas Budi. (ton)

Editor : Kimda Farida
#Gunung Rinjani #TNGR Rinjani #Sampah Rinjani #sembalun #NTB