LombokPost-Panen raya komoditas jagung di Bumi Gora masih berlangsung.
Berdasarkan data UPSUS Jagung Kementan, realisasi areal jagung di Kabupaten Sumbawa seluas 75.407 hektare, Dompu 34.042 hektare, dan Kabupaten Bima 29.980 hektare, serta Lombok Timur 23.925 hektare.
Dengannya menyebabkan produksi Jagung di NTB meningkat. Data BPS NTB juga menyebut potensi produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen saja, di angka lebih dari 558 ribu ton.
Dari kondisi tersebut, Perum Bulog NTB menambah jumlah target serapan komoditas Jagung petani NTB. Semula hanya 25 ribu ton, sekarang menjadi 80 ribu ton.
”Melihat di beberapa wilayah terutama di Pulau Sumbawa yang memang produksinya sangat melimpah,” terang Wakil Pimpinan Wilayah (Pimwil) Perum Bulog NTB Musasdin Said, saat ditemui, Selasa (11/6).
Ditambah lagi, mayoritas kelompok petani jagung banyak meminta Bulog untuk menyerap hasil panen mereka.
Sehingga Bulog pusat mengatensi situasi tersebut dan menugaskan pihaknya untuk meningkatkan target penyerapan.
Memasuki pertengahan Juni, Perum Bulog NTB telah menyerap Jagung petani NTB mencapai 30 ribu ton.
”Ke depannya akan terus bertambah,” imbuhnya.
Untuk penyerapan hasil panen petani, Bulog NTB mengacu harga yang telah ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Penyerapan ini nantinya menjadi bagian dari Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB H Mohammad Taufiek Hidayat mengatakan fleksibilitas harga yang sudah berlaku saat ini, merupakan harga yang diinginkan petani, dan ia bersyukur bahwa pemerintah pusat merespons harga dengan baik, terutama karena alasannya tingginya biaya pokok produksi Jagung.
”Dan bagaimanapun situasinya, Bulog harus hadir menyerap hasil panen petani, itulah fungsi penugasan yang mesti dijalankan,” tegasnya. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida