LombokPost-Pemerintah Provinsi NTB terus mendorong program industrialisasi dengan strategi hilirisasi. Tujuannya agar terbentuk ekosistem industri sehingga akan meningkatkan nilai tambah dan memicu geliat perekonomian.
“Program industrialisasi sudah mulai menunjukan bukti dan terlihat wujud jati dirinya,” kata Kepala Dinas Perindustrian NTB Hj Nuryanti, SE. ME.
Menurut Hj Nuryanti, saat ini Provinsi NTB sudah memiliki enam sektor industri prioritas. Yakni industri pangan, hulu agro, permesinan alat transportasi, hasil pertambangan, kosmetik, farmasi herbal dan kimia, dan ekonomi kreatif.
Dijelaskan, sektor industri pangan telah menghasilkan berbagai capaian penting. Mulai dari kegiatan standarisasi hingga sertifikasi olahan pangan lokal. Yakni halal, merek, BPOM PIRT, dan Uji Laboratorium produk lainnya.
Industri hulu agro juga mulai menampakkan capaian. Misalnya industrialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang menghasilkan minyak atsiri, minyak cengkeh, minyak kayu putih, dan lain-lain. “Capaian yang tak kalah penting dalam industri agro ini adalah pembangunan pabrik pakan terbesar di Provinsi NTB, atau feedmill yang berlokasi di STIPark Banyumulek,” katanya.
Khusus untuk industri permesinan alat transportasi, sektor ini telah mencatatkan sejumlah hasil karya putra putri NTB. Diantaranya pengembangan kendaraan listrik Le-Bui, Matric – B, dan ngebUTS. Serta berkembangnya aneka mesin–mesin teknologi sederhana dari IKM untuk IKM.
“Sementara industri hasil pertambangan lebih fokus dalam menyiapkan segala sumber daya untuk program industri turunan smelter di Kabupaten Sumbawa Barat,” katanya.
Selanjutnya industri kosmetik, farmasi herbal dan kimia, telah mengembangkan industri kosmetik dan farmasi herbal (organik Lombok dan teh kelor). Selain itu, pendampingan pembuatan APD (alat pelindung diri) buatan IKM, standarisasi produk dan bantuan peralatan bagi IKM kosmetik, farmasi herbal, dan alat kesehatan (APD).
Dan yang terakhir adalah industri ekonomi kreatif, kegiatannya lebih banyak melibatkan kaum melinial sebagai motor penggeraknya. Seperti muslim fashion industry yang mengantarkan NTB menjadi kiblat muslim fashion di Indonesia.
Dalam industri ini juga dilakukan pelatihan pewarna alam untuk kain tenun, bimtek tenun menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin), festival desainer tenun Lombok Sumbawa, dan fashion show tenun di tingkat nasional.
“Keenam sektor tersebut akan terus didorong untuk membentuk pondasi ekosistem industri dari hulu ke hilir,” katanya.
Akses Bahan Baku
Sementara itu, Dinas Perindustrian NTB melakukan kerja sama dengan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan akses bahan baku bagi industri kecil menengah olahan makanan, kriya, farmasi dan produk lainnya.
Hal ini sebagai langkah awal dalam mewujudkan industri yang tangguh gemilang, berdaya saing global, sejahtera, dan berkeadilan di Provinsi NTB. “Kerja sama ini diharapkan memperkuat kemitraan dan perkembangan ekonomi di Provinsi NTB, serta membantu meningkatkan sumberdaya manusia agar industri menjadi lebih baik,” kata Hj Nuryanti.
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir, Provinsi NTB telah berhasil membangun industri kecil mengolah produk makanan dan minuman, kriya, serta farmasi. Hal ini sejalan dengan visi Rencana Induk Pembangunan Industri (RPIP) 2021-2041 dengan tujuan menciptakan industri NTB yang berdaya saing global.
“Namun, masalah yang sering terjadi adalah keterbatasan akses bahan baku. Sehingga Dinas Perindustrian NTB menjalin kerja sama dengan pihak Merdeka Belajar – Kampus Merdeka,” katanya. (lil)
Editor : Haliludin