Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Palibelo Bima Sudah 137 Hari Tidak Diguyur Hujan, Dua Kecamatan di NTB Masuk Level Awas Kekeringan

Yuyun Kutari • Rabu, 11 September 2024 | 11:17 WIB
AIR MAKIN SULIT: Seorang warga mencari air, beberapa waktu lalu. Saat ini di Provinsi NTB sudah kekeringan level awas. (Ivan/Lombok Post)
AIR MAKIN SULIT: Seorang warga mencari air, beberapa waktu lalu. Saat ini di Provinsi NTB sudah kekeringan level awas. (Ivan/Lombok Post)

LombokPost--Curah hujan di seluruh wilayah Provinsi NTB pada dasarian I September 2024 secara umum berada pada kategori Rendah, yaitu 0-10 milimeter per dasarian.

Sifat hujan pada periode ini umumnya didominasi kategori Bawah Normal (BN). 

Monitoring Hari Tanpa Hujan berturut-turut (HTH) berada pada kategori sangat panjang, yaitu rata-rata sudah tidak ada hujan selama dua bulan.

Bahkan di Pos Hujan Palibelo Teke, Kabupaten Bima sudah tidak ada guyuran hujan selama 137 hari.

Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Ni Made Adi mengatakan, dengan kondisi ini, ada beberapa wilayah yang sudah ditetapkan status awas Kekeringan. Yaitu di Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima; dan Kecamatan Suela, Lombok Timur.

Di dua tempat tersebut memang harus ada intervensi penanganan lebih serius.

Kemudian di tempat lain kategori level siaga. Seperti di beberapa kecamatan di Kabupaten Dompu, Kabupaten dan Kota Bima, Lombok Barat, Lombok Tengah, serta Lombok Timur.

Termasuk juga Lombok Utara dan Sumbawa.

Ni Made mengatakan, berdasarkan monitoring, analisis dan prediksi curah hujan dasarian, terdapat indikasi kekeringan meteorologis.

Sebab, dengan kejadian hari kering berturut-turut itu, pasti akan menimbulkan kekeringan dengan potensi waspada, siaga, hingga status awas.

"Saat ini seluruh wilayah NTB masih dalam periode musim kemarau. Masyarakat diimbau dapat menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien," imbuh perempuan yang akrab disapa Kiki itu. 

Masyarakat juga perlu mewaspadai kebakaran hutan dan lahan. Sebab, pada periode puncak musim kemarau seperti saat ini, rawan terjadinya kebakaran.

"Masyarakat dapat memanfaatkan penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan untuk mengantisipasi kekurangan air," kata Kiki.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB Ahmadi mengatakan, warga yang terdampak kekeringan mencapai 500 ribu.

Dia mengaku, pihaknya sudah beberapa kali menyuplai air bersih ke titik-titik yang sudah kekurangan air.

"Kita sudah bergerak sesuai dengan jadwal," katanya.

Misalnya dengan mengirimkan air ke beberapa desa di Lombok Barat, beberapa waktu lalu.

Kemudian di awal September ini, lanjut distribusi ke Lombok Tengah, Lombok Timur, Bima dan Dompu.

"Kami sudah jadwalkan semua. Yang pasti, warga terdampak diperhatikan," imbuhnya.

Termasuk juga di tempat-tempat yang tidak memiliki sumber air tanah atau jaringan air bersih.

Mereka ini harus dikirimi air dari luar. Seperti di kawasan pesisir, gili, dan di pulau-pulau kecil.

"Di situ harus mendatangkan air bersih menggunakan kapal,” terangnya.

Dia juga mengingatkan tentang kerawanan kebakaran hutan dan lahan di puncak musim kemarau ini.

Potensi terjadinya amukan api tersebut disebabkan karena suhu udara juga meningkat.

“Karena itu  harus waspada betul terhadap pemicu kebakaran, baik kebakaran lahan maupun pemukiman,” ujarnya. (bib/yun/r11)

 

 

Editor : Kimda Farida
#Kekeringan #BMKG NTB