LombokPost-Gubernur NTB terpilih Lalu Muhammad Iqbal menyoroti konsep desa wisata yang berkembang di Bumi Gora. Menurutnya, konsep saat ini terlalu menitikberatkan pada penyediaan penginapan murah di pedesaan, tanpa memperhatikan pengalaman wisata yang lebih kaya.
“Saya banyak diskusi dengan Ibu Ni Luh Puspa, Wamenpar kita, tentang konsep desa wisata. Desa wisata yang ada sekarang praktis hanya berfokus pada penginapan murah,” kata Iqbal dalam diskusi bertema “Mengembangkan Pariwisata NTB Berkualitas dan Berkelanjutan” di Mataram, Minggu (2/2).
Ia menilai konsep ini perlu dievaluasi. Jika pemerintah pusat tetap mengusung pola yang sama, ia menyatakan tidak setuju. “Saya bilang, kalau konsepnya begitu, saya out,” ujarnya.
Menurutnya, desa wisata seharusnya menawarkan pengalaman budaya yang autentik. Wisatawan lokal maupun mancanegara, datang untuk merasakan sesuatu yang berbeda, bukan sekadar menginap.
“Mereka ingin mencoba pengalaman yang tidak mereka temui sebelumnya,” jelas pria asal Lombok Tengah tersebut.
Pengalaman berbeda itu bisa berupa aktivitas keseharian masyarakat Lombok atau Sumbawa yang menonjolkan filosofi, adat istiadat, dan budaya yang telah mengakar.
“Oh, menyenangkan ya. Ternyata punya filosofi yang mendalam, ternyata masyarakat Lombok dan Sumbawa punya peradaban panjang. Nah, pengalaman semacam ini yang ingin mereka (wisatawan, Red) rasakan,” tambahnya.
Konsep ini akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintahan Iqbal-Dinda. “InsyaAllah kita akan mengkalibrasi konsep desa wisata. Oke, bisa kita lanjutkan, tetapi harus kita sesuaikan. Jangan hanya sekadar menyediakan tempat menginap murah,” tegasnya.
Iqbal juga mengungkapkan catatan lain yang ia temui saat berkampanye ke desa wisata dalam Pilgub NTB. Ia bertemu warga dari desa tetangga yang merasa desa wisata tidak memberikan manfaat bagi mereka.
“Saya ngomongin desa wisata, dan mereka bilang, ‘Ngapain Pak ngurusin itu, mereka hanya ngurus diri sendiri’,” ungkapnya.
Sebagian warga melihat desa wisata sebagai sesuatu yang eksklusif dan tidak menimbulkan efek ekonomi yang merata. Padahal, desa-desa di NTB selama berabad-abad hidup dalam keguyuban dan saling mendukung.
“Sekarang satu desa dijadikan desa wisata, malah menimbulkan sifat egois. Ini nggak boleh terjadi. Justru keguyuban itu yang ingin dirasakan wisatawan asing. Mereka ingin melihat kehidupan yang berbeda dari kampung halamannya, tapi kita malah mengisolasi desa wisata menjadi kawasan khusus yang terpisah dari lingkungannya,” tandas mantan Duta Besar RI untuk Turki tersebut. (yun/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post