LombokPost-Penanganan dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kecamatan Wera dan Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, masih terus dilakukan.
”Terutama yang lima korban hilang ini, ini terus kita upayakan,” kata Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahmadi, saat dikonfirmasi Lombok Post, Rabu (5/2).
Operasi pencarian dan penyelamatan korban masih menjadi prioritas.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari TRC BPBD Kabupaten Bima, BPBD NTB, TNI-Polri, Basarnas, dan relawan telah memperluas area pencarian, mulai dari pemukiman warga hingga pesisir pantai.
Pemerintah setempat menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari, mulai 4 hingga 17 Februari.
Pemerintah juga telah menghitung total kerugian akibat bencana alam ini, mencapai Rp 81 miliar.
Sejumlah sarana dan prasarana rusak parah, seperti rumah warga, tiga jembatan yang putus, yaitu Jembatan Tololai di Desa Mawu, Jembatan Talapiti di Desa Talapiti, dan Jembatan Ujung Kalate di Desa Nipa.
Banjir bandang juga mengakibatkan tiga bendung jebol, jalan raya di Desa Nangawera terkikis air, serta kerusakan pada pipa air minum, bronjong sungai, dan areal pertanian.
Tanaman padi milik warga terbawa banjir, dan lahan persawahan seluas 200 hektare tertutup sedimen. Fasilitas pendidikan dan kesehatan juga terdampak.
”Kerugian terbesar adalah jalan yang rusak tergerus air, dan tiga jembatan yang putus, kita estimasi biayanya lebih dari Rp 20 miliar,” kata Ahmadi.
Ahmadi menegaskan, estimasi kerugian akan disampaikan kepada Pj Gubernur NTB Hassanudin, Pemkab Bima, dan BNPB.
Untuk penanganan kebencanaan, masing-masing pemda telah menyiapkan anggaran dari Biaya Tak Terduga (BTT).
”Ini nggak bisa ditangani sendiri oleh pemprov, pusat dan daerah juga akan rembuk. Angka Rp 81 miliar itu masih nilai kasar, bisa kurang atau lebih, nanti kita rincikan lagi,” jelas Ahmadi.
Pemerintah masih melayani kebutuhan dasar korban dengan bantuan makanan siap saji, pelayanan kesehatan, dan perbaikan jaringan listrik yang padam pascabencana.
”Teman-teman di lapangan terus berjibaku,” tandasnya.
Plt Kepala BPKAD NTB Ervan Anwar memastikan kesiapan pembayaran BTT untuk penanganan bencana banjir di Bima.
BTT juga digunakan untuk memberikan santunan kepada keluarga korban yang meninggal, berkisar Rp 1-5 juta.
Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengingatkan warga meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.
Terutama bagi Tim SAR yang melakukan pencarian, untuk tetap memprioritaskan keselamatan, mengingat potensi bencana susulan.
“Bagi warga yang tinggal di dekat lereng tebing dan pinggir sungai, pantau kondisi tanah dan debit air di sekitar rumah, serta lakukan evakuasi mandiri jika hujan terus menerus lebih dari dua jam,” tegasnya. (yun/r7)
Editor : Kimda Farida