LombokPost-Kanwil Kemenag NTB bersama stakeholder terkait melaksanakan kegiatan pengamatan Hilal di Taman Loang Baloq, Mataram, Jumat (28/2).
Rukyatul Hilal merupakan agenda rutin pemerintah setiap tahun, untuk menentukan awal Ramadan tahun 1446 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 2025 Masehi.
Pengamatan Hilal dilakukan mulai waktu terbenam matahari jam 18.36 Wita dan waktu terbenam bulan di 18.54 Wita.
Menggunakan empat perangkat dan teleskop dari Kanwil Kemenag NTB, Stasiun Geofisika Mataram, UIN Mataram, serta Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), masing-masing melakukan pengamatan rukyatul hilal.
Baca Juga: L’Oréal Paris Umumkan MEOVV Jadi Brand Ambassador Baru
Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan mengatakan, berdasarkan hasil perhitungan, bahwa di Kota Mataram tinggi hilal yaitu 3º 29' 35,61''.
Sedangkan Elongasinya yaitu: 5º 46' 26,25'', sehingga belum memenuhi kriteria Neo MABIMS yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 dan elongsi 6,4.
“Untuk pengamatan hilal hari ini, situasi atau cuacanya relatif mendung. Keputusannya dari Lombok, dari pengamatan BMKG tidak terlihat,” terangnya, Jumat (28/2).
Dia menegaskan sudah sejak awal pengamatan dimulai, ada gumpalan awan yang lumayan tebal.
Baca Juga: Bupati Lombok Utara Bakal Evaluasi Izin Ritel Modern
Kemudian sempat mengalamai sedikit cerah.
Kemudian dari rekaman Stasiun Geofisika Mataram, di azimut tersebut ada beberapa awan tipis yang menghalangi.
Diakuinya, dalam pengamatan hilal Ramadan ini, pihaknya membutuhkan waktu hanya 18 menit sehingga relatif sulit mendapatkan data yang akurat.
“Tertutup awan tipis, bukan tertutup total yang tidak bisa dilakukan pengamatan. Datanya ada, kemudian elongasinya masih relatif kurang. Jadi kita putuskan dari pengamatan dari Pantai Loang Baloq tidak terlihat untuk pengamatan BMKG,” tandasnya.
Kepala Bimas Islam Kanwil Kemenag NTB H Azharuddin mengatakan, perbedaan metode pengamatan hilal ini berakar pada metode yang digunakan dalam menetapkan awal bulan hijriah, yakni rukyatul hilal atau pengamatan langsung hilal dan hisab atau perhitungan astronomi.
Di Indonesia, pemerintah melalui Kemenag akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan 1 Ramadan berdasarkan hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik pengamatan.
Sementara itu, sebagian organisasi Islam yang mengandalkan metode hisab mungkin telah menentukan awal Ramadan lebih awal.
Baca Juga: DPRD Lombok Timur Bakal Kawal Pemberian Bansos yang Habiskan Anggaran Rp 40 Miliar
Jika hilal tidak terlihat pada hari yang diharapkan, maka kemungkinan terjadi perbedaan dalam memulai puasa.
“Hal ini bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah Islam, karena metode penentuan awal bulan memang memiliki perbedaan pandangan yang sah dalam fikih Islam. Terlepas dari perbedaan tersebut, yang terpenting bagi umat Islam adalah menjaga persatuan dan saling menghormati keputusan yang diambil oleh masing-masing pihak,” terangnya.
Azharuddin menyampaikan, Ramadan adalah bulan penuh berkah, dan semangat kebersamaan dalam menjalankan ibadah harus tetap dijaga demi memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Semoga Ramadan tahun ini membawa keberkahan bagi kita semua, serta menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan kebaikan. (yun)
Editor : Kimda Farida