LombokPost-Pemprov NTB mengklaim sukses menurunkan angka kemiskinan selama setahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), NTB sudah keluar dari daftar 10 provinsi termiskin di Indonesia.
Sekretaris Daerah NTB Lalu Gita Ariadi mengatakan tahun 2023 NTB berada di posisi ke-8 daerah miskin. Tapi saat ini berada di posisi ke-12. "Artinya NTB sudah keluar dari 10 besar daerah miskin di Indonesia. Kita keluar dari top ten terbawah provinsi miskin," kata Gita.
Disampaikan, persentase penduduk miskin di NTB pada September 2024 sebesar 11,91 persen. Angka itu turun 1,00 persen jika merujuk pada Maret 2024. Juga menyusut 1,94 persen poin jika dibandingkan dengan data Maret 2023.
"Kita sedang berjuang menjadi satu digit angka kemiskinan," ujarnya.
Secara makro, jelas dia, pemprov ingin menciptakan suasana perekonomian masyarakat yang bergairah kembali. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik. Inflasi terkendali. Selain itu, investasi yang masuk ke NTB terus bergerak. Sehingga bisa menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.
"Mudah mudahan ini menginspirasi dan memotivasi kita untuk terus bekerja lebih progresif," imbuh Gita.
Dalam memerangi kemiskinan, sambung Gita, ada beberapa intervensi yang sudah dilakukan. Seperti meningkatkan pendapatan masyarakat, menurunkan beban pengeluaran serta mengurangi kantong-kantong daerah kemiskinan. Termasuk daerah kumuh. Dia optimistis program tersebut akan terus berlanjut lima tahun ke depan.
"Maka ini adalah road map menuju NTB makmur mendunia," tandas Gita.
Mantan ketua tim transisi Iqbal-Dinda Adhar Hakim mengatakan, penanggulangan kemiskinan menjadi program prioritas Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri. Hal itu dijabarkan dalam visi misi selama lima tahun mendatang. "Pola penanganan kemiskinan harus terintegrasi dengan semua OPD. Program satu OPD dengan OPD yang lain harus linier dalam menanggulangi kemiskinan," kata Adhar.
Penguatan ekonomi dilakukan di berbagai sektor unggulan. Seperti pertanian, pariwisata, hingga pertambangan. Saat ini industri kreatif juga mulai digalakkan di kalangan anak-anak muda. Sehingga muncul banyak karya berbasis kearifan lokal. "Munculnya sineas muda berbakat harus didukung dengan ekosistem industri perfilman ke depan," paparnya. (mar/r7)
Editor : Akbar Sirinawa