LombokPost-Ketika musim panen raya tiba, banyak petani masih memanfaatkan bahu jalan untuk menjemur gabah atau jagung. Kepala Bidang Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan NTB Chairy Chalidyanto mengimbau agar kebiasaan ini dihentikan.
“Sebab ini sangat berisiko,” terangnya kepada Lombok Post.
Baca Juga: Ujian Sekolah Tingkat SD Dimulai 5 Mei, Jenjang SMP 19 Mei
Menurut Chairy, menjemur hasil panen atau meletakkan barang dagangan di bahu jalan mengganggu kelancaran lalu lintas. Selain itu, membahayakan keselamatan petani itu sendiri.
“Di samping itu, tentu saja hasil panen, misalnya gabah atau jagung yang dijemur akan tercerai-berai, dihempas angin kendaraan yang melintasinya, dan ini mengurangi hasil panen itu sendiri,” jelasnya.
Bagi pengendara, lanjut Chairy, kondisi ini sangat berbahaya. Roda kendaraan bisa tergelincir karena kehilangan traksi pada permukaan jalan, membuat kendaraan sulit dikendalikan.
“Sehingga mudah terjadi kecelakaan,” tegasnya.
Dampak lainnya, pengendara roda dua bisa terganggu pandangannya akibat serpihan gabah yang berterbangan. Padahal, bahu jalan seharusnya menjadi jalur darurat saat arus lalu lintas di badan jalan padat.
“Oleh karena itu diharapkan kepada masyarakat untuk tidak menggunakan bahu jalan untuk menjemur gabah ataupun kegiatan masyarakat lainnya seperti menggelar barang dagangan,” tandasnya.
Asisten II Setda NTB H Fathul Gani berharap, pemerintah desa dapat berperan aktif menyediakan area terbuka sebagai tempat penjemuran hasil panen. Pemerintah desa bisa memfasilitasi dengan menyiapkan terpal dan perlengkapan lain, sehingga petani tidak lagi memanfaatkan bahu jalan.
“Kita khawatirkan keselamatan masyarakat kita, apalagi kalau menjemurnya di jalur cepat, bukan soal apa tetapi ini keselamatan kita bersama, ini yang harus kita utamakan,” tegasnya.
Ia mengakui, kondisi seperti ini kerap terjadi saat panen raya. Apalagi curah hujan masih cukup tinggi. Sementara masyarakat masih meyakini teknik penjemuran tradisional sebagai yang paling baik, sehingga kebiasaan menjemur di bahu jalan sulit dihindari.
Untuk mengubah kebiasaan ini, menurut Fathul, dibutuhkan teknologi yang mendukung. Saat ini pemerintah sedang menyiapkan teknologi pascapanen.
“Kedepannya, agar tidak mengganggu pemandangan dan fasilitas umum, maka solusi yang paling elegan yang kita tawarkan adalah adanya teknologi pengeringan pascapanen itu. Ada kapasitasnya, nanti dari Bulog akan kita koordinasikan, ada pengering portable bisa bergerak dengan kapasitas 1,5 hingga 10 ton. Sehingga masyarakat terbiasa menggunakan teknologi itu,” paparnya.
Di sisi lain, pemerintah desa ke depan juga diminta menyiapkan lahan-lahan pengeringan.
“Bisa di lapangan terbuka karena kita tahu ke depan ini pemerintah desa harus mengalokasikan 20 persen dari Dana Desa untuk mendukung ketahanan pangan,” tandasnya. (yun/r7)
Editor : Rury Anjas Andita