LombokPost - Pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan I-2025 mengalami kontraksi sebesar minus 2,32 persen (q-to-q), sedangkan secara tahunan (y-o-y) turun minus 1,47 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut salah satu penyebabnya adalah tidak adanya ekspor tambang sejak awal tahun hingga saat ini.
Kepala Bappeda NTB H Iswandi mengakui pertumbuhan ekonomi daerah belum inklusif, karena masih sangat tergantung pada sektor tambang.
“Ketika ekspor hasil tambang mengalami penurunan atau tidak ada, maka pasti pertumbuhan ekonomi di daerah akan mengalami kontraksi,” ujarnya kepada Lombok Post, Minggu (18/5).
Pemprov tidak tinggal diam melihat kondisi ini.
Dalam rancangan program ke depan, pertumbuhan ekonomi harus didorong lebih inklusif dengan meningkatkan diversifikasi ekonomi non tambang.
“Kita terus mendorong ekspor komoditas non tambang meningkat, baik jumlah maupun nilai ekspornya,” jelasnya.
Saat ini Pemprov NTB tengah menyusun program unggulan NTB Agromaritim.
Program ini menjadi terobosan menjaga Bumi Gora sebagai lumbung pangan nasional, sekaligus meningkatkan pengembangan ekspor non tambang dan penguatan hilirisasi komoditas unggulan daerah.
Sektor agromaritim di NTB berkontribusi sekitar 4,3 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sektor ini meliputi kelautan, perikanan, pertanian, peternakan, dan kehutanan.
“Potensi agromaritim kita sangat besar, oleh karena itu melalui program unggulan ini, kita akan memperkuat hilirisasi komoditas agromaritim, baik industri hulu maupun hilirnya,” papar Iswandi.
Baca Juga: Khasiat Jogging Bagi Lansia, Bikin Bahagia dan Terlihat Jauh Lebih Muda
NTB sebagai lumbung pangan nasional terus menjaga produksi komoditas yang sudah swasembada seperti padi, jagung, cabai rawit, cabai besar, dan bawang merah.
Ada pula tujuh komoditas yang produktivitasnya perlu ditingkatkan agar memenuhi kebutuhan daerah dan menekan impor, antara lain daging sapi, daging ayam, telur, bawang putih, minyak goreng, dan gula.
Selain itu, Pemprov telah memetakan hampir 40 komoditas agromaritim potensial dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, serta peternakan yang dapat dikembangkan sebagai komoditas ekspor.
“Untuk komoditas ekspor non tambang yang selama ini terus meningkat dari sisi jumlah dan nilai, akan terus kita perhatikan, begitu juga negara tujuan ekspornya akan diperluas,” kata Iswandi.
Pemprov juga terus mengembangkan pariwisata sebagai penggerak ekonomi.
Menurut Iswandi, jika Bali yang tidak memiliki tambang bisa tumbuh pesat dengan dukungan pariwisata, NTB pun harus bisa.
Soal kontraksi ekonomi ini, yang disebabkan minimnya ekspor tambang, hampir tiap tahun terjadi untuk NTB.
Dalam catatan Lombok Post, kondisi serupa terjadi pada Mei 2023, nilai ekspor NTB mengalami koreksi di Mei 2023 sebesar 41,23 persen dibandingkan April 2023.
Sementara dibandingkan Mei 2022, nilai ekspor mengalami anjlok cukup dalam hingga 98,22 persen.
Pada Mei 2022, nilai ekspor NTB mencapai USD 219.549.552. Sedangkan di Mei 2023, ekspor NTB hanya di angka sekitar USD 3.907.982. Situasi ini disebabkan aktivitas ekspor PT AMNT yang terhenti.
Kemudian di 2024, pada triwulan IV 2024, ekonomi NTB mengalami kontraksi sebesar 0,50 persen secara tahunan (y-o-y). Kontraksi ini disebabkan oleh penurunan ekspor sebesar 41,43 persen dan sektor pertambangan yang mengalami kontraksi sebesar 16,84 persen.
Kepala BPS NTB Wahyudin menyebut sektor pertanian dan perdagangan memberi kontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi NTB.
Hal ini membuat kontraksi pertumbuhan ekonomi NTB secara tahunan tidak terlalu dalam. (yun/r7)
Editor : Kimda Farida