LombokPost – Desa Wisata Sade dipilih PT Amerta Indah Otsuka sebagai pilot project Eco Village, Jumat (23/5). Program ini diharapkan bisa menjadi solusi agar pengelolaan sampah di destinasi wisata lebih baik lagi.
Eco Village diharapkan bisa meningkatkan kemampuan pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan di Desa Wisata Sade yang berada di Lombok Tengah.
Launching program ini dihadiri Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati, Human Capital and Corporate Communications Director of Otsuka Sudarmadi Widodo, Asisten II Setda NTB Lalu Moh Faozal, Wakil Bupati Lombok Tengah H M Nursiah, ITDC Mandalika, dan Dinas LHK NTB.
”Gerakan wisata bersih ini wujud kepedulian kami. Saya yakin Dusun Sade sudah menjadi etalase wisata dan ikon Lombok, sehingga kebersihan menjadi salah satu yang harus dijaga dengan baik,” ujar Human Capital and Corporate Communications Director of Otsuka Sudarmadi Widodo.
Widodo menjelaskan program Eco Village bukan hal yang mudah. Karena misinya adalah mengubah kebiasaan. Dimana kebiasaan yang masih ada sekarang adalah pembuangan sampah tidak dipilah.
Otsuka Eco Village bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang mampu mengelola sampah secara mandiri, termasuk pemilahan sampah dan daur ulang.
”Ini project ketiga kami. Dimana menjadi spesial karena dua project sebelumnya kita terapkan di pabrik kami,” kata Widodo.
Untuk memastikan program ini berjalan sesuai tujuan, Otsuka tentu membutuhkan dukungan dari masyarakat Dusun Sade. Karena mereka menjadi kunci atau motor penggerak agar program bisa berhasil.
”Jadi kita harus saling bahu membahu mewujudkan wisata bersih. Saya yakin dengan dukungan Kemenpar dan seluruh pihak, program ini akan berhasil,” pungkasnya.
Program Eco Village ini mendapat dukungan penuh Kementerian Pariwisata. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati mengatakan program ini sesuai dengan program yang sedang dijalankan Kemenpar.
Baca Juga: Ini Lima Superhero Lain yang Muncul di Film Superman DCU
Kemenpar saat ini fokus pada dua hal untuk pengembangan pariwisata yaitu pariwisata berkualitas dan pariwisata berkelanjutan.
”Kita tidak bicara wisatawan yang datang banyak. Tapi sekarang soal kualitasnya. Ini dilihat dari lamanya dan berapa spending yang dikeluarkan wisatawan mancanegara di daerah kita,” katanya.
Jika ingin menciptakan yang berkualitas maka destinasi wisata harus menyediakan hal yang berkualitas juga.
”Yang paling mendasar dan sederhana adalah kebersihan destinasi wisatanya,” cetus Wamenpar.
Maka dari itu Kemenpar menggagas quick win. Dengan prioritas adalah gerakan wisata bersih. Sehingga program Eco Village dari Otsuka yang diterapkan di Desa Adat Sade bisa menjadi salah satu solusi soal pengelolaan sampah.
”Kita ingin meningkatkan daya saing di kancah global. Kemudian disusul dengan program lain yakni desa wisata. Desa wisata ini bukan program baru tapi bagaimana melanjutkan agar lebih berkualitas,” jelasnya.
Menurut Wamenpar, secara anggaran dan jangkauan Kemenpar tidak bisa sendirian. Maka harus ada kolaborasi. Ini kunci dari kesuksesan program ini.
"Presiden Prabowo sudah berpesan, jangan menganggap bisa melakukan sendirian. Harus ada kolaborasi dengan sluruh pihak," katanya.
Menindaklanjuti kolaborasi tersebut, Kemenpar sudah menghubungi banyak mitra strategis mulai dari yang sudah kolaborasi dan belum kolaborasi. Salah satunya adalah Pocari Sweat.
”Waktu itu saya katakan kami ada program wisata bersih yang diprioritaskan di 10 destinasi. Salah satunya di Lombok. Ada dua lokasi yakni tiga gili dan Mandalika,” ungkapnya.
Wamenpar berharap program Eco Village yang diinisiasi Otsuka di Desa Adat Sade bisa mendapatkan dukungan semua pihak.
”Kolaborasi ini harus terus dilanjutkan. Jadi saya percaya gerakan yang digagas Pocari Sweat ini tidak hanya jadi seremonial saja. Tapi bisa terus berkelanjutan,” tuturnya.
Wamenpar juga meminta dukungan semua pihak untuk menciptakan destinasi wisata yang bagus. Dan yang menjadi ujung tombak utama adalah masyarakat.
”Jadi saya mohon pokdarwis dan pemdes bisa berkolaborasi menyadarkan masyarakat bagaimana menjaga kebersihan dan menciptakan destinasi yang aman dan nyaman bagi wisatawan agar destinasi bisa berkualitas,” tandasnya.
Asisten II Setda NTB Lalu Moh Faozal mengatakan pihaknya sangat bersyukur karena Sade menjadi pilot project program Eco Village yang diinisiasi Otsuka.
"Kami harap tidak hanya Sade saja. Tapi bisa juga di tiga gili, karena disana problemnya sampah juga. Proses sampah sangat tergantung kerja manusia karena disana tidak boleh ada transportasi bermesin," katanya.
Faozal menambahkan pemprov berharap Otsuka tidak hanya berada di hilir tapi juga di hulu untuk mengedukasi masyarakat memilah sampah
"Kita harap bisa berdiskusi lagi dengan LHK agar bisa diterapkan juga di tempat lain seperti tiga gili," pungkasnya.
Editor : Pujo Nugroho