Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Aduh Tuhan, Apa Kata Dunia, Demo Minta Provinsi Pulau Sumbawa kok Blokir Pelabuhan Lagi

Prihadi Zoldic • Senin, 26 Mei 2025 | 21:28 WIB
PANAS: Kericuhan Demo Provinsi Pulau Sumbawa Ramai Dibahas, Warganet Bingung Demo Apa Sebenarnya?
PANAS: Kericuhan Demo Provinsi Pulau Sumbawa Ramai Dibahas, Warganet Bingung Demo Apa Sebenarnya?

 

LombokPost - "Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali", itu adalah potongan salah satu lirik lagu yang kerap dinyanyikan Ariel Noah. Tapi kali ini bukan tentang lagu, ini tentang pemblokiran akses dari dan menuju Pelabuhan Poto Tano di Pulau Sumbawa, buntut desakan pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS).

 

Sebelumnya, aksi dengan memblokade pelabuhan pernah dilakukan. Dan kini dilakukan lagi, dengan tuntutan yang sama, agar Pulau Sumbawa dimekarkan. Dipisahkan dari Provinsi NTB, dan menjadi provinsi tersendiri bernama Provinsi Pulau Sumbawa (PPS).

 

Padahal pelabuhan itu tak ada sangkut pautnya. Pemerintah pusatlah yang menutup keran pemekaran. Moratorium dilakukan sejak lama, dan belum juga dibuka kerannya. Menyebabkan banyak daerah hingga kini tak jadi mekar.

Dalam tulisan Lombok Post sebelumnya, telah dijelaskan oleh salah seorang pemerhati sosial budaya Anas Amrullah, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan. Hal yang lebih produktif untuk mendorong terbentuknya Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) tanpa harus demo menutup pelabuhan.

 

  1. Parade Budaya Daerah Bertema “Kami Siap Mandiri”

Saran Anas Amrullah, alih-alih berdemo apalagi sampai menutup pelabuhan, massa dapat menggelar karnaval budaya. Di sana bisa menampilkan pakaian adat, tarian, kuliner, dan musik lokal. Diakhiri dengan orasi damai dan pembacaan semacam Manifesto Mandiri.

 

  1. Flashmob di Alun-Alun / Pusat Kota

Saran berikutnya dari Anas Amrullah, lautan massa menari dengan koreografi unik dan pesan Pemisahan Damai Demi Kemajuan. Direkam secara profesional untuk disebar di media sosial. Sehingga berpotensi viral dan mendapat simpati luas.

 Baca Juga: Catat Baik-baik, NTB Bukan Hanya Mandalika dan Jalan Port to Port Jadi Solusi

  1. Kampanye “1.000 Surat Cinta untuk Presiden”

Berikutnya, warga dari semua kalangan menulis surat terbuka penuh harapan tentang masa depan jika provinsi berdiri sendiri. Dibuat digital dan cetak, lalu dikirim dan dipublikasikan serentak. Menurutnya langkah ini lebih berpotensi menggetarkan.

 

  1. Aksi Simbolik Menanam 1.000 Pohon Bertema “Tumbuh Sendiri”

Saran lainnya, aksi tanam pohon bersama sambil membawa spanduk “Waktunya Kami Tumbuh Sebagai Provinsi Baru”. Bukan malah menutup Pelabuhan Poto Tano yang merupakan akses penting denyut nadi warga.

 Baca Juga: Bukan Mataram Harum, Bukan Mataram Maju Religius Berbudaya, Tapi...

  1. Festival Kuliner “Rasa Baru, Provinsi Baru”

Tak kalah penting menurut Anas Amrullah, pasar makanan khas daerah dengan booth edukatif tentang potensi dan alasan pemisahan provinsi. Kegiatan ini dapat disertai lomba masak antar-kecamatan.

 

  1. Aksi “Peta Manusia”

Berikutnya, ribuan orang membentuk peta provinsi baru dari udara, diwarnai dengan pakaian warna khas. Drone merekam dan hasilnya disebarkanluaskan, sehingga membuat gerakan makin dikenal.

 

BAKAL SEMAKIN MAJU: Lombok Tidak Rugi Pisah dari Sumbawa, Ekonomi Kuat, PAD Tinggi, dan Siap Jadi Provinsi Lombok
BAKAL SEMAKIN MAJU: Lombok Tidak Rugi Pisah dari Sumbawa, Ekonomi Kuat, PAD Tinggi, dan Siap Jadi Provinsi Lombok

  1. Operasi Balon Harapan

Pilihan nomor tujuh untuk mendorong terbentungnya PPS alias Provinsi Pulau Sumbawa, dengan ratusan balon dilepas ke langit dengan pesan harapan warga untuk daerahnya. Disertai kampanye video “Apa harapanmu untuk provinsi baru?”

 

  1. Panggung Rakyat “Stand Up Pemekaran”

Acara stand-up comedy, puisi, musik, dan teatrikal ringan yang membahas isu pemekaran secara cerdas dan satir juga bisa dilakukan. Ini tentu ringan, namun menarik, bahkan mengena bagi generasi muda.

 Baca Juga: Top 10 Kota Paling Maju di Luar Jawa, Mataram Masuk Jajaran Elite

  1. Gerakan “Selfie Mandiri”

Kampanye media sosial dengan hashtag, di mana warga selfie dengan background fasilitas buruk dan tulisan “Kami Bisa Lebih Baik Kalau Mandiri”. Dengan langkah ini bisa terbentu gerakan bersama sebagai kekuatan baru.

 

  1. Aksi “Satu Suara, Satu Lagu”

Selanjutnya, disarankan menciptakan lagu tema pemekaran, libatkan musisi lokal dan paduan suara massal. Lagu ini diluncurkan serentak secara online dan saat aksi damai. Bukan dengan menutup pelabuhan.

 

 

 

Editor : Prihadi Zoldic
#Provinsi Pulau Sumbawa #pps #NTB #Lombok