LombokPost – Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal angkat bicara terkait pertumbuhan ekonomi NTB yang dikatakan mengalami kontraksi -1,47 persen pada triwulan pertama.
Dijelaskan, kondisi itu terjadi karena faktor sektor pertambangan.
Tanpa sektor tambang, sebetulnya pertumbuhan ekonomi NTB tumbuh positif 5,57 persen.
Lebih tinggi dari rata-rata nasional di angka agregat 4,87 persen.
Bahkan di sektor pertanian ekonomi NTB tumbuh lebih dari 10 persen.
"Sebenarnya kita sudah on the right track. Cuma ini ada masalah di sektor tambang," jelas Miq Iqbal di Mataram, Rabu malam (28/5).
Bahkan angka pertumbuhan di luar tambang itu melampaui pertumbuhan ekonomi Bali yang berada pada kisaran 5,52 persen.
Juga menyalip pertumbuhan NTT yang mencapai 4,55 persen.
"Pertumbuhan kita lebih tinggi dari tetangga kita di Bali dan NTT," paparnya.
Kondisi itu, sambung dia, sudah disampaikan langsung ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.
Sebab dia tidak hadir ketika rapat koordinasi tentang percepatan realisasi APBD 2025 digelar melalui zoom meeting tanggal 8 Mei lalu.
"Saya sudah jelaskan duduk persoalan ini ke Pak Mendagri setelah rapat itu. Saya sudah berkomunikasi langsung menjelaskan ke beliau," ujar Miq Iqbal.
Dijelaskan, sejak smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara diresmikan, izin ekspor konsentrat dihentikan pada Desember 2024.
Sementara pada saat smelter berjalan kapasitasnya baru 40 persen.
"Sehingga tidak ada produksi. Bahkan dalam sebulan terakhir, produksi smelter itu sudah berhenti sama sekali," jelas Iqbal.
Menurutnya, fenomena itu bukan hanya dihadapi PT Amman, namun PT Freeport Indonesia juga menghadapi situasi yang sama.
"Jauh-jauh hari sudah di-warning oleh tim transisi. Memang ada kemungkinan akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi kalau digabung dengan sektor tambang ini," ujar Iqbal.
Nah, untuk mengatasi situasi itu, dirinya sudah bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Pertemuan dilakukan dua pekan lalu.
Gubernur Iqbal meminta supaya ada relaksasi ekspor konsentrat bagi PT Amman.
Pihaknya meminta relaksasi dalam volume dan waktu yang dibatasi.
"Karena kalau ini tidak diatasi terkait situasi di PT Amman ini, maka tahun depan bagi hasil bisa nol," imbuhnya.
Baca Juga: Fokus Agromaritim untuk Pertumbuhan Ekonomi, Optimalkan Pengelolaan Potensi SDA NTB
Di luar pertambangan, Pemprov NTB terus menggenjot sektor lain.
Yang menjadi andalan adalah bidang pertanian, peternakan, dan pariwisata.
Iqbal optimsitis tiga sektor itu bisa berkontribusi makin besar di dalam pertumbuhan ekonomi lokal.
"Kalau pariwisata memang dengan sendirinya kita dorong terus. Karena kita ingin NTB sebagai destinasi pariwisata kelas dunia," tandas mantan Duta Besar Indonesia di Turki itu.
Editor : Kimda Farida