LombokPost - Sebuah insiden kecil terjadi, kala Bupati Lombok Timur (Lotim) H Haerul Warisin meminta pemandu wisata asal Lombok Tengah (Loteng) yang membawa tamu ke Pantai Ekas, Kecamatan Jerowaru untuk balik kana.
Hal ini dikarenakan giude asal Loteng kerap membawa wisatawan melalui jalur laut tanpa masuk melalui kawasan wisata Teluk Ekas Lotim.
Langkah tegasnya itu dalam upaya coba memajukan pelaku wisata lokal.
“Beberapa Minggu lalu banyak masalah yang terjadi di Pantai Ekas, sehingga ini harus kita selesaikan,” terang Bupati Lotim H Haerul Warisin, Rabu (18/6).
Parkir perahu di tengah laut saat membawa tamu juga mengganggu wisatawan yang sedang menikmati surfing di teluk Ekas.
“Kalau mau menikmati Pantai Ekas, masuk melalui Lotim lah atau menginap di sana. Jangan bawa tamu dari tengah laut dan parkir di tengah laut, setelah selesai surfing lalu pergi begitu saja,” ungkapnya.
Ekas sendiri dikenal memiliki spot selancar yang sangat indah. Namun, tingkat hunian penginapan di Ekas maupun sekitarnya sepi, sehingga sangat berdampak terhadap pendapatan daerah. “Kita juga akan koordinasi dengan bupati Loteng,” ujarnya.
Disebutkan daerah selatan masih membutuhkan sentuhan pembangunan yang banyak. Karena itu, sektor pariwisata diharapkan menjadi sumber PAD untuk menunjang pembangunan di Lotim. “Langkah ini kita harapkan dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan dan mendorong peningkatan hunian penginapan di Ekas, sehingga pariwisata dapat benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Lotim,” katanya.
Langkah cenderung tegas itu diambil setelah mendengar keluhan dari para pelaku pariwisata lokal, juga tamu yang menginap di seputaran Teluk Ekas, yang tidak dapat berselancar karena lokasi dipenuhi perahu di tengah laut. Tamu-tamu yang memang menginap di Ekas tidak kebagian ombak dan hal tersebut dinilai tidak adil. “Ini untuk mengambilkan hak pelaku usaha lokal kita, sekaligus meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Ekas harus memberi manfaat bagi masyarakat Lotim,” pungkasnya.
Salah satu pelaku wisata di teluk Ekas Ahmad Zaenudin menyampaikan akibat permasalahan ini pendapatan PAD dari Teluk Ekas menurun drastis, jika dibandingkan tahun sebelumnya. Pada awal Juni lalu, jumlah pajak yang disetorkan kepada Pemkab Lotim Rp 54 juta, yang sebelumnya bisa mencapai Rp 80-81 juta per bulan.
Menurutnya langkah yang diambil bupati sangat tepat. Sebab selama ini persoalan tersebut tidak kunjung ada penyelesaian. “Kami harap pemerintah bisa cepat respons, ketika ada masalah di Teluk Ekas, supaya jangan ada konflik yang berlebihan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pelaku wisata lainnya Jaya Kusuma juga mengapresiasi respons cepat Bupati Haerul Warisin yang menegur guide yang membawa tamu melalui laut dan parkir di tengah laut. “Alhamdulillah, Bupati Lotim datang ke spot dan memberi peringatan,” tutupnya.
Terpisah, Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Tengah (Loteng) menyesalkan sikap yang ditempuh Bupati Lotim Haerul Warisin. “Kita tidak tahu wisatawan yang diusir itu nanti bercerita dari mulut ke mulut, ini (bisa berdampak, Red) ke pariwisata. Laut ini kan milik Provinsi NTB, mau itu dari Lombok Tengah, Lombok Barat, KLU bisa saja datang untuk berselancar,” ucap Kepala Dispar Loteng Lalu Sungkul, Rabu (18/6).
Pantai Ekas di Lotim, Pantai Bangko-Bangko di Lobar, Pantai Gerupuk di Loteng, Pantai Sekongkang di Sumbawa Barat sudah memiliki nilai jual internasional sebagai lokasi berselancar terbaik di Provinsi NTB. Artinya, wisatawan yang datang berselancar tidak terbentur dengan administraif sebuah wilayah. “Termasuk tidak ada keharusan wisatawan untuk menginap di daerah mana pun. Wisatawan tidak paham soal ini, selama ada infrastruktur ke sana maka akan dipakai,” kata dia.
Sungkul menyebut, apa yang menjadi penyebab bupati Lotim marah-marah hingga mengusir pelaku wisata dan wisatawan mancanegara harus ditelusuri. Seharusnya jika bupati Lotim kesal atau marah disampaikan langsung kepada perusahaan atau pengusaha selancar di sana bukan langsung kepada wisatawan yang tidak tahu apa-apa. “Itu yang salah menurut saya, kita sayangkan dan sesalkan siapa yang menjadi mentor (pembisik) bupati sehingga bupati Lotim marah-marah dan videonya viral di media sosial,” ungkapnya.
Menurutnya, viralnya sikap bupati Lotim di media sosial sudah menggiring kemana-mana, termasuk rasis antara Lotim dan Loteng. Sungkul berharap jangan sampai persatuan yang sudah dibangun antara dua daerah bersaudara ini menjadi pecah. “Masyarakat kita harapkan tidak berlebihan, apalagi sampai ikut melarang-larang,” ujar Sungkul.
Sungkul menjelaskan, dirinya jauh hari sudah pernah berkomunikasi dengan Dispar Lotim terkait kisruh di Pantai Ekas, Lotim beberapa hari ini. Salah satunya, kemungkinan soal keberadaan wisatawan yang berselancar di sana tapi tidak berkontribusi ke Lotim. “Saya usulkan ke Pak Kadispar Lotim untuk bekerja sama dengan Polairud agar mengosongkan area Laut Ekas sementara, sebelum ada pertemuan langsung antara kedua belah pihak, baik dari Lotim, saya wakili Loteng, pertemuan ini dalam menyusun regulasinya mau seperti apa,” beber Sungkul.
Dikatakan, sikap bupati Lotim yang mengusir pelaku wisata asal Loteng maupun wisatawan akan sah-sah saja jika ada regulasinya. Regulasi ini tentu akan ada jika sudah tersedia daya tampung dan daya dukung. “Karena daya tampung dan daya dukung di sana tidak memadai, maka terjadi masalah ini, dikaji dulu berapa daya tampung dan daya dukung di sana,” kata mantan camat Pujut ini.
Dengan adanya regulasi, nantinya Lotim berhak mengatur penjadwalan kunjungan wisatawan yang di bawa pelaku wisata. Menyoal nantinya ada kewajiban yang harus dibayarkan ke Pemkab Lotim, Sungkul persilakan saja selama kewajiban yang ditarik bersifat legal. Tidak cukup hanya melalui lisan.
Tidak ada asap jika tidak ada api. Diketahui, kekisruhan itu bermula dari keberadaan Warga Negara Asing (WNA) yang berusaha menjadi instruktur selancar di Pantai Ekas, Lotim. WNA tersebut sudah setahun beraktivitas di sana dan merasa memiliki pantai hingga ombak laut di depannya. “Sehingga memunculkan (amarah, red) dari pemandu surfing lokal merasa piringnya di ambil, seharusnya soal ini yang harus diselesaikan dengan Pemkab Lotim terhadap pihak jasa surfing, bukan mengusir wisatawan,” cetusnya.
Persoalan Ekas ini, dinilai Sungkul menjadi pertanda bahwa Pantai Ekas yang menjadi pilihan wisatawan berselancar akan berkembang pesat. Pemkab Lotim sebaiknya mengambil peluang tersebut dan mendorong pihak ketiga untuk membangun akomodasi dan sebagainya. “Menggaet peselancar kelas dunia yang memang banyak uangnya, agar semakin banyak wisatawan yang datang menginap ke sana,” kata Sungkul. (par/ewi/r6)
Editor : Pujo Nugroho