Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan Orang Lombok, Sosok Agam Rinjani Rupanya Memiliki Latar Belakang Keluarga Tak Biasa yang Tidak Banyak Diketahui

Fratama P. • Senin, 30 Juni 2025 | 16:38 WIB
Sosok dan cerita Agam Rinjani
Sosok dan cerita Agam Rinjani

LombokPost - Nama Abdul Haris Agam, yang lebih dikenal sebagai Agam Rinjani, kembali menjadi perbincangan hangat publik internasional. 

Agam Rinjani ini baru-baru ini mencuat setelah memainkan peran krusial dalam evakuasi jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang terjatuh di jurang Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. 

Di kalangan komunitas pendaki dan pegiat alam bebas, nama Agam Rinjani sama sekali bukan hal baru.

Agam Rinjani lebih dari sekadar pemandu atau porter ia adalah seorang penjaga Rinjani, sosok yang tumbuh, hidup, dan menyatu dengan gunung tersebut.

Perjalanan Hidup dari TPA Antang ke Kaki Gunung Rinjani

Agam Rinjani lahir di Makassar pada 22 Desember 1988 dengan masa kecil yang cukup mengharukan.

Masa kecilnya dilalui dalam lingkungan yang keras di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar, sebuah area yang jauh dari gambaran keindahan alam. 

Di sanalah Agam Rinjani kecil terpaksa belajar mandiri lebih cepat dari anak-anak seusianya.

Bersama saudara-saudaranya, ia terbiasa memulung dan memilah sampah demi menyambung hidup.

“Hidup kami memang keras. Tapi dari situlah Agam tumbuh jadi pribadi yang kuat dan mandiri,” kenang Naris, kakak Agam Rinjani.

Nama kecilnya adalah Ucok, namun, setelah ayahnya yang bernama Agam wafat, ia memilih untuk menggunakan nama tersebut sebagai bentuk penghormatan. 

Di jalur pendakian, di basecamp, dan di kalangan sesama rescuer, ia dikenal dengan satu nama Agam Rinjani, sebuah identitas yang melekat erat dengan pengabdiannya pada gunung.

Menyatu dengan Jiwa Rinjani

Sudah lebih dari sepuluh tahun Agam Rinjani menetap di Sembalun, salah satu pintu masuk utama menuju Gunung Rinjani. 

Sehari-hari, profesinya adalah sebagai pemandu pendakian, dan ia juga sering terlibat langsung dalam berbagai operasi penyelamatan. 

Bagi Agam Rinjani, gunung bukan sekadar tempat bekerja, namun Rinjani adalah rumah, tempat belajar, dan altar pengabdian baginya.

"Dia kuasai Rinjani luar dalam. Bukan cuma rutenya, tapi juga cuaca, karakter medan, bahkan perubahan angin," tutur Naris, menggambarkan betapa mendalamnya pemahaman Agam Rinjani tentang gunung tersebut.

Keahlian Agam Rinjani dalam vertical evacuation atau evakuasi di medan vertikal membuatnya sering kali diminta untuk terlibat dalam misi penyelamatan yang berisiko tinggi. 

Ia bahkan pernah menjadi viral beberapa tahun lalu setelah berhasil menyelamatkan sejumlah turis asing yang tersesat dan kelelahan di jalur ekstrem Rinjani, membuktikan kapasitasnya sebagai penyelamat yang handal.

Aksi Heroik Saat Tragedi Juliana Marins

Ketika kabar duka menyelimuti Rinjani, seorang pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dilaporkan jatuh ke jurang, Agam Rinjani sedang berada di Jakarta. 

Namun, tanpa menunggu permintaan, Agam Rinjani langsung memutuskan untuk kembali ke Lombok. 

Ia menyadari bahwa keahliannya sangat dibutuhkan, dan setiap detik sangat berharga dalam situasi darurat seperti itu.

Agam Rinjani menjadi orang pertama yang menawarkan diri untuk turun ke jurang sedalam 600 meter, tempat jasad Juliana tergeletak. 

"Kami harus bermalam di jurang. Saya dan dua teman harus bergantian memegang jasad Juliana agar tidak tergelincir lagi. Kami baru bisa naik setelah cuaca membaik," tulisnya dalam sebuah unggahan di Instagram Story, memberikan gambaran betapa sulit dan berisikonya proses evakuasi tersebut.

Sayangnya, di tengah tragedi tersebut, sempat beredar informasi menyesatkan di media sosial.

Foto Agam digunakan dalam narasi yang menyebutkan ia adalah pemandu yang meninggalkan Juliana sendirian. 

“Saya sempat syok. Padahal saya tahu Agam waktu itu tidak sedang mendaki,” ujar Naris, menyayangkan narasi keliru tersebut. 

Dua hari setelah kejadian, Agam Rinjani baru bisa menghubungi keluarganya, karena ia sengaja tidak aktif di media sosial demi fokus penuh pada proses evakuasi. 

Namun, atas permintaan keluarga korban dari Brasil, ia merekam dan menyiarkan sebagian proses penyelamatan tersebut.

Dalam unggahan lainnya, Agam Rinjani menuliskan rasa terima kasihnya kepada tim yang solid dan semua pihak yang mendukung. 

Ia tidak banyak berbicara tentang peran dirinya secara pribadi, melainkan hanya menjalani tugas yang ia anggap sebagai panggilan jiwa untuk kemanusiaan dan alam.

Gunung, Rumah yang Sebenarnya

Kisah Agam Rinjani bukan hanya tentang keberanian luar biasa menuruni jurang atau upaya menyelamatkan nyawa orang lain. 

Ini adalah kisah inspiratif tentang seorang anak desa yang lahir di antara tumpukan sampah, namun kemudian tumbuh menjadi penjaga alam yang berani dan memiliki kerendahan hati yang luar biasa. 

Gunung Rinjani tidak hanya mengenal jejak langkah Agam Rinjani, tetapi juga hatinya yang tulus mengabdi.

Agam Rinjani merupakan sosok yang tidak pernah mendambakan popularitas atau panggung. 

Agam Rinjani hanya ingin terus berada di jalur yang ia cintai membantu sesama, menjaga kelestarian alam, dan menghormati kehidupan. 

Dedikasi Agam Rinjani pada Rinjani telah menjadikannya ikon sejati, teladan bagi banyak orang.***

 

Editor : Fratama P.
#agam rinjani #Lombok