Syamsul Padhli, adalah salah satu anggota Tim SAR Lombok Timur yang ikut dalam rombongan penyelemat Juliana Marins. Bahkan Syamsul Padhli adalah orang pertama yang turun ke tebing Rinjani dalam upayanya menemukan korban.
Dalam sebuah video Youtube, Syamsul Padhli menceritakan pengelamannya saat menyelamatkan Juliana Marins sejak menerima laporan hingga evakuasi jenazah.
Syamsul Padhli bersama Tim SAR Lombok Timur menerima laporan dari Taman Nasional Gunung Rinjani pada Sabtu (21/6) sekitar pukul 09.00 wita. Dalam 30 menit mereka sudah dalam perjalanan melakukan pertolongan menuju Gunung Rinjani.
Syamsul Padhli bersama Tim SAR menempuh perjalanan dari kota Selong, Lombok Timur melalui Desa Sembalun. Lalu mereka berjalan kaki menuju lokasi punggungan Rinjani.
Sekitar pukul 18.30 wita Syamsul Padhli dan Tim SAR sudah sampai ditepi jurang jatuhnya Juliana Marins, lalu mempersiapkan peralatan.
Tanpa menunggu lama, Syamsul Padhli dan tiga orang rekannya mulai menuruni tebing menggunakan tali 200 meter, sesuai dengan perkiraan awal bahwa posisi Juliana Marins berada 150 meter dari tepi jurang.
Namun ternyata, ketika tali sepanjang 200 meter itu habis, Juliana Marins tidak ada di lokasi awal, hanya trekking pole & headlamp yg berhasil ditemukan oleh Syamsul Padhli yang turun paling bawah, karena ketiga kawannya bertugas menahan talinya.
Firasat Syamsul Padhli saat itu Juliana Marins merosot lebih jauh. Demi dapat menggapai korban sebelum malam, Syamsul Padhlinekat menyambung tali 200 dengan webbing 100 meter yang dibawanya dan meneruskan upayanya menuruni tebing.
Namun dengan total 300 meter tali yang berhasil dicapai Syamsul Padhli, hasilnya tetap nihil, Juliana Marins tetap tidak ditemukan.
Karena hari sudah semakin malam, kabut dan gelap pun menghalangi pandangan Syamsul Padhli mencari posisi Juliana Marins. Dia pun memutuskan akan melanjutkan mencari ketika matahari telah terbit.
Karena dirinya sudah turun dikedalaman 300 meter, dengan pertimbangan bila naik lagi akan memakan waktu lama, Syamsul Padhli akhirnya memutuskan untuk bertahan di ujung tali, bermalam sendiri dibawah dengan pakaian apa adanya.
Hanya bermodal selembar jaket, tanpa sleeping bag maupun peralatan bermalam yang cukup, Syamsul Padhli berusaha untuk tidur dengan kemiringan 45 derajat di tebing.
Tak sampai di situ, aksi heroik Syamsul Padhli semakin nekat, dengan menyuruh ketiga temannya yang menahan tali naik ke atas mencari tempat tidur yang datar di daratan. Namun kawan-kawannya menolak dan tetap bertahan menjaga tali Syamsul Padhli dari atas.
Akhirnya ketika pagi datang, Syamsul Padhli melanjutkan mencari Juliana Marins namun kabut tebal membuat jarak pandangnya terbatas sehingga upaya pencarian tidak memungkinkan dia lanjutkan. Akhirnya Syamsul Padhli memutuskan untuk naik ke atas.
Upaya pencarian diteruskan menggunakan drone dari pendaki Rinjani yang berniat membantu, namun hasilnya nihil karena kapasitas baterai yang terwaktu. Drone dari BASARNAS pun diturunkan untuk mencari namun cuaca buruk menghalangi, kabut tebal dan angin kencang membuat drone tak mampu terbang maksimal.
Di hari ke 3 pencarian masih diteruskan menggunakan drone thermal dari BASARNAS, selang berapa lama, posisi Juliana Marins akhirnya berhasil ditemukan.
Dua orang personel BASARNAS turun mencoba menjangkau korban namun belum berhasil mendekati korban karena kurang peralatan akibat kontur tebing yang sulit diperkirakan.
Team berkordinasi dengan Basecamp Sembalun, meminta dikirim peralatan tambahan, terutama tali, dan alat tersebut dikirim dan tiba di lokasi malam hari
Hari ke 4 evakuasi, Syamsul Padhli bersama 6 personil lainnya (termasuk Agam Rinjani) kembali turun tebing membawa peralatan tambahan.
Saat itu 3 orang orang memposisikan diri di kedalaman 400 meter, Syamsul Padhli dan 3 personil lainnya (Tyo Survival, Agam Rinjani, Kahfid) turun lebih dalam ke posisi 590 meter.
Syamsul Padhli tiba dikedalaman 590 meter pada sore hari dan berhasil menemukan posisi Juliana Marins dalam kondisi meninggal dunia (MD).
Jasad Juliana Marins pun diamankan, namun karena sudah malam hari, Syamsul Padhli bersama 3 orang rekannya memutuskan untuk bermalam di dekat posisi jasad Juliana Marins.
Di hari ke 5 proses evakuasi, jasad Juliana Marins berhasil diangkat ke atas lalu kemudian dievakuasi ke Desa Sembalun dan diterbangkan ke RS Bhayangkara Mataram menggunakan Helikopter.
Sesulit itu proses evakuasi, bukan karena alat yang tidak memadai, bukan karena lambat merespon, bukan juga karena rescuer "kurang kompeten", tapi semata-mata karena kondisi medan dan cuaca ekstrem yang proses evakuasi menjadi sangat sulit.
Masyarakat Indonesia maupun Brasil, terlebih lagi netizen, harusnya bukan membuat kecurigaan atau hujatan karena tak berhasil menyelamatkan Juliana Marins dalam keadaan hidup. Sebaliknya apresiasi dan penghargaan yang harus diberikan untuk para pahlawan penyelamat pendaki ini.
Di media sosial banyak sekali komentar nyinyir yang mengatakan sudah sepantasnya Tim SAR menolong orang dengan resiko nyawa karena memang itu pilihan profesi dan pekerjaannya.
Lantas apakah netizen tahu jika tim penyelamat Juliana Marins yang turun ke jurang saat itu kebanyakan merupakan relawan yang tidak digaji oleh negara. Mereka menolong hanya karena panggilan hati bahkan tak memikirkan nyawa sendiri. Hebatnya lagi mereka rela mengeluarkan uang sendiri demi membeli peralatan mendaki untuk bisa menyelamatkan orang yang jatuh ke jurang.
Jangankan uang Rp1,5 miliar, ratusan miliar pun rasanya tak sebanding dengan taruhan nyawa dan aksi heroik tim penyelamat demi menyelamatkan Juliana Marins maupun korban lainnya yang jatuh di jurang Gunung Rinjani.
Itu sebabnya mari kita semua membalas pengorbanan tim penyelamat dengan menjadi garda terdepan bagi siapa saja yang mencurigai ataupun meragukan ketulusan dan keprofesionalan Syamsul Padhli dkk dalam menyelamatkan nyawa manusia.
Editor : Siti Aeny Maryam