Bukan Agam Rinjani, Ali Mustafa Orang Pertama Turun Cari Juliana Marins ke Tebing Rinjani
Redaksi Lombok Post• Selasa, 8 Juli 2025 | 23:40 WIB
Ali Mustafa LombokPost – Sedikit demi sedikit kabar mengenai kronologis proses evakuasi jasad Juliana Marins turis Brasil yang jatuh di Gunung Rinjani akhirnya terungkap lebih jelas.
Ali Mustafa pemandu (guide) yang menemani Juliana Marins naik ke puncak Rinjani angkat bicara di kanal Youtub Denny Sumargo di Curhat bang Denny Sumargo yang dipublish Selasa (8/7) petang.
Dalam wawancara sekitar 51 menit tersebut Ali menceritakan kronologis detail bagaimana awal Juliana jatuh ke lereng kawah Rinjani hingga akhirnya berhasil dievakuasi.
Ali juga menjawab secara detail tudingan berbagai pihak yang menuduh dirinya menelantarkan Juliana.
Nyatanya Ali menjadi orang pertama yang turun menggunakan tali dan berupaya menolong Juliana.
Hanya saja tali yang tersedia tak cukup panjang untuk menjangkau tubuh Juliana yang berada di kedalaman sekitar 200 meter.
“Itu yang pertama kali saya yang turun disana,” ujarnya kepada Denny Sumargo.
Seperti diberitakan sebelumnya Sabtu, 21 Juni 2025 dini hari Juliana Marins bersama Ali dan lima orang anggota rombongan lainnya berangkat dari Pelawangan Sembalun menuju Puncak Rinjani.
Sekitar pukul 05:30 Juliana yang letih meminta izin kepada Ali untuk beristirahat sejenak di punggungan. Ali mempersilakan Juliana untuk beristirahat sejenak di posisi yang relatif aman.
Ali kemudian bergerak untuk memeriksa lima rekan Juliana yang telah bergerak lebih sambil membawakan bekal. Harapannya ia meminta rekan-rekan tersebut untuk beristirahat dan menunggu kedatangan Juliana sebagaimana kesepakatan dengan Juliana sebelumnya.
Namun 30 menit berselang Juliana yang ditunggu tak kunjung datang. Barulah Ali turun untuk mencari Juliana di lokasi semula.
Namun Juliana sudah tidak ada di tempat semula. Ia hanya melihat seberkas cahaya senter jauh jatuh ke dalam jurang. Saat itu ia berupaya memanggil dan Juliana membalas.
“Help Me (tolong aku),” kata Ali menirukan respons Juliana saak dirinya memanggil nama Juliana di tepi jurang.
Ali kemudian berkoordinasi via radio dengan Perusahaan Tempat ia bekerja untuk mengabarkan tentang musibah yang terjadi.
Pesan ini kemudian diteruskan kepada TNGR dan komunitas Tour Operator Rinjani yang segera bergerak menyiapkan evakuasi.
Menjawab kabar ini, Rekan Ali tiba di lokasi dari puncak Rinjani, Sementara Ali kemudian turun ke mencari Tali ke Shelter di Pelawangan Sembalun yang berjarak sekitar dua jam.
Namun ia tidak mendapatkan tali di Shelter Pelawangan. Ia kemudian naik lagi ke lokasi jatuhnya Juliana sembari menunggu datangnya bantuan.
Bantuan pertama tiba adalah para Porter yang membawa Tali dari TNGR sekitar pukul 14.00 WITA. Sayangnya Porter yang dikirim TNGR tak satupun yang berani turun ke tebing.
Karena itulah Ali memberanikan berinisiatif memberanikan diri turun tangan. Meski tak memiliki pengalaman melakukan evakuasi di dalam jurang namun rasa tanggung jawab sebagai pemandu membuat Ali bertaruh nyawa untuk menyelamatkan Juliana.
“Nggak pernah sama sekali (punya pengalaman turun ke tebing, Red), naik pohon saja saya ngga berani,” ujarnya.
Gagal mencapai posisi Juliana, Ali dibantu sejumlah pendaki naiik kembali ke posisi awal. Sementara kabut semakin tebal menghalangi jarak pandang ke posisi Juliana di pinggir jurang.
Bantuan dari Tim SAR gabungan akhirnya tiba di lokasi sekitar pukul 19.00 WITA petang.
Namun karena keterbatasan jarak pandang dan medan yang sulit proses evakuasi baru bisa dilakukan keesokan harinya.
Sementara itu Agam Rinjani tiba membantu proses evakuasi di hari ke tiga setelah Tim Gabungan awal berhasil menemukan titik jatuhnya Juliana.
“Saya meminta maaf kepada keluarga Juliana,” kata Ali lirih.
Ia merasa sangat menyesal tidak bisa optimal menyelamatkan Juliana. Permintaan maaf secara langsung juga sudah ia sampaikan kepada ayah dan saudara Juliana yang datang ke Sembalun beberapa waktu lalu.(r2)