LombokPost - Rinjani terdiam sejenak, 1-10 Agustus, jalur-jalur pendakiannya ditutup. Bukan karena murka alam, tetapi karena cinta manusia yang ingin merawatnya.
Di seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani, semisal via Pelawangan Sembalun hingga Danau Segara Anak kini begitu sunyi. Suara nafas dan derap langkah pendaki tak lagi terdengar.
Digantikan oleh suara alat para petugas yang bekerja. Ada suara mesin bor, alas las, palu yang dipukulkan ke batu, hingga sekop, linggis, dan cangkul yang bekerja.
Kepada Lombok Post para petugas mengatakan, sesekali mereka bercengkrama untuk menghalau penat. Petugas lapangan ini terdiri dari petugas Balai TNGR, TNI dari Kodim 1615 Lotim dan Yon Zipur 18/YKR, dan Rinjani Squad. Tak ketinggalan porter lokal, ojek Rinjani, serta dukungan tak tergoyahkan dari Forum Wisata Lingkar Rinjani, Consina, dan FOne Sport Ultra Nusantara. “Mereka bukan sekadar memperbaiki jalur. Mereka sedang mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi para pendaki,” terang Kepala Balai TNGR Yarman, Senin (4/8).
Kerja itu untuk membangun ulang kepercayaan setiap kaki yang menapaki Rinjani. Karena bagi mereka, Rinjani bukan sekadar destinasi, itu adalah warisan dan rumah yang harus dijaga.
Dalam sepuluh hari yang intens, tim telah mencatat progres signifikan, khususnya di jalur Pelawangan Senaru menuju Danau Segara Anak. Tali pegangan lama yang sudah usang diganti dengan tambang baru, yang lebih kuat.
Fasilitas pendakian yang mulai pudar dicat ulang, kembali mencolok di antara kabut dan tebing. Trap tangga dari batu dan tanah berbatu dibangun, diratakan, dipadatkan, dikuatkan. Semua untuk memberi pegangan pasti bagi kaki yang menapak.
Kemudian, Ada juga tangga besi baru yang dibuat, siap menghadapi kaki para pendaki yang menginjaknya dengan mantap. Tiang pegangan juga diperbaiki agar tak mudah goyah lagi.
Selanjutnya, titik-titik pegangan yang sempat lepas, kini kembali menyatu lewat pengelasan dan perakitan ulang. Setiap baut yang dipasang, setiap besi yang dilas, hingga setiap tali pengaman yang diikat adalah bagian dari narasi tanggung jawab.
Karena keselamatan tak bisa ditawar, dan kenyamanan bukan kebetulan. Namun diciptakan melalui kerja keras. Setiap pijakan yang diperbaiki adalah wujud tanggung jawab. “Kami ingin pendaki naik dengan tenang, dan pulang dengan selamat,” jelasnya.
Baca Juga: Balai TNGR Butuh Alat Canggih Imbas Insiden Terjatuhnya Juliana Marins di Rinjani
Perjalanan mendaki bukan hanya soal menaklukkan ketinggian, tapi juga menjaga apa yang kita cintai. Dan kali ini, cinta itu terwujud lewat kerja keras para petugas. “Langkah ini adalah bagian dari komitmen kami, untuk menjaga kawasan Rinjani, agar tetap aman, ramah, dan layak bagi pencinta alam,” pungkasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam