Lombok Post-Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), menunjukkan capaian Rp 22,5 miliar pada 2024.
“Ini menjadi bukti tingginya animo masyarakat terhadap pariwisata alam, khususnya pendakian dan ekowisata di Rinjani,” terang Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Yarman.
Hanya saja, sesuai ketentuan, TNGR hanya bertugas menghimpun penerimaan, bukan mengelolanya. “PNBP itu masuknya langsung ke Kementerian Keuangan," ujarnya.
Kini pihaknya tengah mengupayakan agar sebagian dari penerimaan tersebut, bisa kembali ke TNGR dalam bentuk dana alokasi khusus (DAK). Rencananya untuk pembangunan sarana dan prasarana pendukung di kawasan Gunung Rinjani.
Menurutnya, alokasi dana sebesar 30 persen saja dari total PNBP yang dihimpun akan sangat bermanfaat untuk menunjang pengelolaan kawasan konservasi tersebut.
“Mudah-mudahan ke depan kita bisa mendapatkan bagian,” harapnya.
Usulan tersebut muncul dari kebutuhan mendesak akan peningkatan fasilitas pendukung di jalur pendakian dan area konservasi.
Berdasarkan data TNGR, total kunjungan wisatawan ke kawasan konservasi mencapai 189.091 orang sepanjang 2024.
Dari jumlah tersebut, 74,73 persen atau 141.302 orang merupakan wisatawan domestik, sementara 47.789 orang atau 25,27 persen mancanegara.
Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan memberikan tekanan tersendiri terhadap ekosistem Gunung Rinjani. Semua ini membutuhkan penanganan serius dalam hal pengelolaan lingkungan dan infrastruktur.
Beberapa kebutuhan prioritas antara lain perbaikan jalur pendakian dan pembangunan pos pengawasan. Kemudian penyediaan toilet ramah lingkungan, serta peningkatan fasilitas edukasi, dan keselamatan bagi para pengunjung.
Dana juga diperlukan guna penguatan kapasitas petugas lapangan, termasuk kegiatan konservasi flora dan fauna endemik. Yarman berharap, dengan adanya alokasi, pengelolaan kawasan dapat dilakukan secara lebih mandiri.
“Semuanya ini untuk mendukung program pelestarian lingkungan dan pengembangan destinasi yang berkelanjutan,” tandasnya.
Anggota DPR RI Dapil NTB I Johan Rosihan mengatakan kondisi saat ini adalahsaat yang pas untuk menjadikan keselamatan dan pelestarian lingkungan sebagai prioritas.
“Keselamatan dan konservasi dalam dunia modern bukan beban, melainkan bentuk investasi. Apalagi setelah tragedi meninggalnya wisatawan asal Brasil di jalur pendakian Rinjani. Ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah,” jelasnya.
Kesiapsiagaan penuh sangat dibutuhkan, terutama saat musim pendakian. Selama ini, insiden kerap tidak tertangani karena keterbatasan akses dan belum adanya tim penyelamat permanen.
“Negara tidak boleh menunggu korban berikutnya untuk bertindak. Investasi dalam keselamatan adalah syarat mutlak dari pariwisata berkelanjutan,” tegas politisi PKS tersebut.
Editor : Akbar Sirinawa