LombokPost - Di balik megahnya persiapan, peringatan HUT RI ke-80, ada detak jantung yang berdegup kencang dari Bumi Gora.
Penari NTB akan unjuk gigi mengukir sejarah di Istana Merdeka Jakarta pada 17 Agustus mendatang.
Provinsi NTB mempunyai budaya yang kuat.
Taman Budaya NTB masih riuh, padahal waktu telah menunjukkan pukul 17.30 Wita. Ada talenta asal Bumi Gora. Sama-sama memiliki tekad yang kuat, berlatih gigih, tanpa letih agar bisa menampilkan yang terbaik.
Koreografer sekaligus Kepala Taman Budaya NTB Lalu Suryadi Mulawarman mengatakan, tampil di Istana Merdeka di momen perayaan HUT RI ke-80, adalah sebuah momen yang selama ini hanya berani mereka bayangkan.
“Ini di luar mimpi kita bersama bahwa NTB dipercaya untuk tampil di perayaan HUT RI ke-80, kemudian di panggung utama, itu bagi kami adalah mimpi yang akhirnya bisa kami wujudkan,” ungkapnya, saat ditemui Lombok Post, Kamis (7/8).
Dengan suara yang tenang namun penuh makna, ia menyampaikan bahwa proses telah mencapai 87 persen. “Kami merapikan bagian per bagian, item per item, menyesuaikan seluruh elemen dengan waktu yang diberikan pihak Istana,” ujarnya.
Hanya tujuh menit. Ya, hanya tujuh menit. Tapi di dalam tujuh menit itu, ada ratusan jam kerja keras. Sebanyak 200 orang penampil dari berbagai sanggar, sekolah, dan komunitas seni di Lombok yang digembleng bukan sekadar untuk tampil, melainkan mewakili wajah NTB di hadapan bangsa dan negara.
NTB akan tampil di panggung utama saat momen upacara penurunan bendera sore hari, berbagi panggung utama dengan Provinsi Sulawesi Tenggara. Ini bukan sekadar penampilan biasa, ini adalah sorotan nasional. Bagi Miq Surya, sapaan akrabnya, Istana Merdeka adalah podium prestisius tempat seni, budaya, dan sejarah bangsa bersatu dalam satu tarikan napas.
Tak ingin kehilangan jati diri, penampilan NTB kali ini akan mengangkat tiga entitas etnis utama yang menjadi napas kebudayaan di Bumi Gora; Sasak, Samawa, dan Mbojo. Ketiganya akan diolah secara artistik, bukan hanya sebagai simbol etnis, tetapi sebagai ruh karya pertunjukan yang menyampaikan pesan kuat tentang keberagaman, identitas, dan semangat juang masyarakat NTB.
Selain itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal turut menitipkan pesan penting. Miq Surya mengatakan dalam pertunjukan ini juga, pihaknya harus mampu menampilkan sosok pahlawan atau tokoh daerah yang mewakili semangat perjuangan NTB dalam konteks nasional.
Saat ini, tim koreografi masih dalam proses eksplorasi untuk menentukan siapa tokoh yang paling tepat, lengkap dengan peran dan narasi historisnya.
“Kami sekarang masih mencari kira-kira yang pas itu siapakah orangnya, tokohnya siapa, dan perannya sebagai apa, ini sekarang kami masih eksplorasi, sehingga keterwakilan dari harapan pak gubernur bisa tersampaikan,” jelasnya.
Semua itu akan dirajut dalam durasi yang sangat terbatas. Miq Surya merasa ditantang untuk menampilkan esensi NTB hanya dalam tujuh menit. Itu bukan hal yang mudah. Namun harus dilakukan.
“Kami harus memilih dan memilah materi dengan sangat hati-hati, tapi kami percaya, dari segi kostum, musik, properti, dan sejarah, NTB punya modal yang cukup kuat untuk tampil berkelas,” kata dia.
Semua materi yang dipilih akan bersifat substantif dan sarat makna, sebab ini bukan pertunjukan biasa, ini adalah bagian dari sejarah bangsa. Dan dalam sejarah itu, NTB ingin memastikan bahwa jejaknya tertulis dengan tinta emas, melalui gerak tari, nyanyian, dan visual artistik yang berbicara tentang keberanian dan budaya.
Lebih dari itu, keberhasilan penampilan ini nanti, menjadi bukti dari hasil sinergi dan kolaborasi nyata antara pemerintah daerah, seniman, budayawan, hingga akademisi. Ini bukan kerja satu orang atau satu institusi. Ini adalah kerja kolektif, kerja gotong royong, kerja bersama demi membawa nama NTB ke panggung nasional dengan kepala tegak.
Bahwa NTB punya budaya yang kuat, talenta yang luar biasa, dan komitmen tinggi untuk terus berdiri sejajar dengan provinsi-provinsi besar lainnya.”Tujuh menit mungkin terdengar singkat. Tapi di tangan orang-orang yang paham akan makna, tujuh menit bisa menjadi abadi,” pungkasnya. (YUYUN ERMA KUTARI, Mataram/r3)
Editor : Pujo Nugroho