LombokPost-Event MotoGP sudah pasti memberikan multiplier effect di sektor perhotelan. Buktinya, okupansi kamar hotel di ring 1 dan ring 2 sekitar Sirkuit Mandalika dipastikan penuh.
Di Pullman Merujani Mandalika Beach Resort dari total 257 kamar, sebagian besar dipesan oleh Dorna Sport hingga tim ofisial pembalap MotoGP.
“Seperti tahun sebelumnya, Pullman ini paling dekat sama sirkuit sehingga menjadi penginapan utama bagi Dorna hingga pembalap dan tim ofisialnya,” ucap General Manager Pullman Merujani Mandalika Beach Resort Budi Wahjono pada Koran ini.
Ia menjelaskan, pada dasarnya keberadaan kamar hotel ring 1 pada ajang MotoGP tidak dijual kepada publik. Melainkan menjadi penginapan utama bagi promotor ajang balap kuda besi, ratusan pembalap hingga tim dari pembalap tersebut.
“Begitu diumumkan tanggal MotoGP tahun depan, saat itu juga langsung penuh terpesan oleh mereka,” tambahnya.
Selain Pullman, sejumlah hotel di ring 2 juga penuh. Misalnya Swiss-Belcourt Lombok dari total 136 kamar telah terisi. Sebagian besar tamu yang menginap adalah tamu VIP sponsor pembalap, sebagian kru dan pembalap Moto2 dan Moto3. Untuk memeriahkan ajang ini, pihak hotel menggelar welcome party bagi tamunya.
“Dengan menampilkan live music, pemajangan hasil kerajinan kain tenun, hingga barbeque malam hari di sekitar kolam hotel,” kata General Manager Swiss-Belqourt Lombok Thomas Dananjaya.
Okupansi di Mataram
Sementara di Kota Mataram, sehari menjelang event MotoGP Mandalika 2025, tingkat keterisian hotel masih berada di kisaran 50-60 persen. Angka ini masih jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya sold out berminggu-minggu sebelum acara.
Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) Made Adiyasa Kurniawan mengatakan, ada peningkatan signifikan pada okupansi menjelang acara MotoGP. Namun itu masih belum mencapai angka yang diharapkan.
"Besok (3/10) itu teman-teman melaporkan ada yang sampai 70 persen, tapi puncaknya itu tanggal 3-5 (hari pelaksanaan) sudah rata-rata 75 persen," jelas Adiyasa.
Kata Adiyasa, target awal okupansi yang dipatok AHM sebesar 70 persen tahun ini. Angka ini dipatok setelah melihat kondisi pemesanan kamar dari agen yang berkurang. Berbeda dengan tahun lalu yang sold out dengan cepat.
"Kalau kita compare sama tahun lalu, tahun lalu itu H-21 hari sebelum acara, kita sudah sold out kamarnya. Karena waktu tahun lalu itu masih banyak pemesanan dari agen," bebernya.
Adiyasa menganalisis, perlambatan okupansi ini disebabkan adanya perubahan segmen penonton MotoGP tahun ini. Menurutnya, penonton kini semakin mengerucut kepada penggemar sejati.
Artinya, tidak lagi didominasi oleh fenomena FOMO (Fear of Missing Out) seperti di tahun pertama dan kedua.
"Tahun pertama, tahun kedua itu masih faktor orang pengin tahu, FOMO lah. Tahun ketiga sudah mix, seimbang antara yang memang penggemar sama orang yang baru mau tahu. Nah, tapi kalau tahun ini saya lihat dari pemesanan yang personal-personal, kelihatannya memang orang yang penggemar sejati," terangnya.
Selain perubahan segmen, Adiyasa menyebut faktor kendala klasik yang masih menjadi tantangan. Salah satunya adalah harga tiket pesawat yang dinilai masih terbatas dan relatif mahal.
"Kalau kita bicara segmen penonton yang ditarget adalah pendatang dari luar NTB, artinya itu berkorelasi dengan pemesanan kamar," katanya.
Menurutnya, tamu yang datang saat ini merupakan penonton yang memang bersedia mengeluarkan dana lebih besar (spend money). Hal itu didorong oleh faktor kecintaan mereka pada MotoGP.
Adiyasa juga melihat tren penjualan tiket MotoGP yang sudah mencapai 87 persen, namun belum berkorelasi langsung dengan penjualan kamar. Sebab itu, AHM memberikan beberapa usulan untuk perbaikan di tahun mendatang.
Di antaranya, pihaknya berharap MGPA dapat menjual tiket lebih awal. Selain itu, juga memberlakukan diskon untuk seluruh Warga Negara Indonesia (WNI), tidak hanya pemegang KTP NTB.
"Saudara-saudara kita yang dari luar NTB itu kan memerlukan usaha lebih. Dia harus beli tiket pesawat, dia harus beli hotel, dia harus sewa mobil. Jadi tiket itu kalau bisa diskonnya untuk semua WNI," tegasnya.
AHM mengusulkan agar MGPA dapat menjalin kerja sama dengan hotel untuk menjual tiket bundling (paket) antara tiket nonton dan kamar hotel. Hal ini diyakini dapat menghindari spekulan kamar yang kerap menjual kembali kamar hotel dengan harga yang lebih tinggi.
"Strateginya bundling antara tiket nonton dengan harga kamar. Jadi menggaransi kamu yang akan nonton itu dapat best price," ujarnya.
Sementara soal harga kamar, Adiyasa memastikan di Mataram relatif normal dan masih berada di bawah ambang batas peraturan.
Di samping itu, hotel-hotel telah menyiapkan paket inklusif yang menawarkan lebih dari sekadar kamar. Seperti fasilitas antar jemput ke sirkuit dan paket makan malam.
"Kami masih berharap pemesanan di last minute ini masih naik terus, terutama untuk 13 persen tiket yang belum laku terjual. Semoga ini mengisi pemesanan kamar," pungkasnya.
Editor : Jelo Sangaji