Hal itu disampaikan Sekretaris Deputi (Sesdep) Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) RI Kombes Pol. Lalu Muhammad Iwan Mahardan dalam dialog interaktif Merajut Pangan Bumi Gora di RRI Mataram, Jumat (7/11).
Dengan tema “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Dapur Makan Bergizi Gratis”, dialog tersebut mengulas keterkaitan antara pangan lokal, pemberdayaan petani, dan peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Baca Juga: Dugaan Jual Beli Jabatan Bikin Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko Kena OTT KPK
“Ketahanan pangan itu bukan semata ketersediaan. Ada akses, ada pemanfaatan, ada stabilitas harga. Itu semua saling berkaitan,” ujar Kombes Lalu Iwan.
Ia menjelaskan empat indikator utama ketahanan pangan: ketersediaan pasokan beragam, akses fisik dan harga terjangkau, konsumsi aman dan bergizi, serta stabilitas pasokan dari waktu ke waktu.
Konsep itu, kata dia, sejalan dengan UU No. 18 Tahun 2012 dan Perpres No. 66 Tahun 2021 tentang Ketahanan Pangan Nasional.
Menurutnya, pemerintah menjadikan ketahanan pangan sebagai program nasional untuk menjamin kesejahteraan rakyat, mencetak SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045, serta mengantisipasi krisis global dan iklim.
“Program seperti MBG, diversifikasi pangan, penguatan cadangan nasional, hingga sinergi lintas kementerian adalah langkah konkret yang kini berjalan,” tegasnya.
Fokus pada Gizi dan SDM Unggul
Kombes Lalu Iwan menekankan bahwa ketahanan pangan harus dilihat dari kebutuhan gizi kelompok rentan—terutama bayi, balita, remaja, dan anak sekolah. Ia mengingatkan, lemahnya salah satu pilar ketahanan pangan dapat memicu gizi buruk dan menurunkan produktivitas bangsa.
“Kalau satu pilar ketahanan pangan lemah, risiko gizi buruk meningkat. Dampaknya langsung ke produktivitas dan daya saing bangsa,” ungkapnya.
NTB Jadi Contoh Sinergi Petani dan Dapur MBG
Dalam kesempatan itu, Kombes Iwan menyoroti NTB sebagai contoh keberhasilan integrasi antara produksi petani lokal, UMKM, BUMDes, hingga koperasi dengan dapur MBG.
Komoditas seperti jagung, ikan, sayur, telur, sorgum, dan buah lokal kini rutin menjadi bahan baku menu harian dapur MBG.
“Dengan memanfaatkan hasil bumi lokal, rantai pasok menjadi pendek dan manfaat ekonominya langsung dirasakan petani,” jelasnya.
Program MBG disebut telah menjadi penghubung antara produksi pertanian dan kebutuhan gizi masyarakat. Petani tidak lagi cemas soal pemasaran karena hasil panen terserap langsung oleh dapur MBG.
Capaian Nyata Program MBG di NTB
BGN mencatat sejumlah capaian hingga Juli 2025, di antaranya:
- 226.735 penerima manfaat MBG
- Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan dapur sehat
- Pelatihan “penjamah makanan” untuk 750 pengelola dapur
- Sosialisasi MBG di berbagai kabupaten/kota
- Keterlibatan 21 UMKM, 7 CV, 38 yayasan, dan 328 supplier lokal
“BGN ingin memastikan pangan bergizi tersedia, higienis, dan aman. Bukan hanya sekadar ‘makan’, tapi benar-benar ‘bergizi’,” tegas Kombes Iwan.
Bangun Fondasi Indonesia Emas
Menutup dialog, Kombes Lalu Iwan menegaskan fokus utama BGN: penurunan stunting, penguatan ketahanan pangan bergizi, edukasi gizi keluarga dan sekolah, serta sistem data dan monitoring terpadu.
“Ketahanan pangan dan ketahanan gizi itu fondasi Indonesia emas. Jika gizinya kuat, SDM-nya kuat,” pungkasnya. (*)
Editor : Marthadi