LombokPost - Hujan deras disertai petir yang mengguyur wilayah Kabupaten Dompu, pada Selasa siang hingga sore hari (11/11).
Kondisi ini menyebabkan banjir di sejumlah kecamatan dan menelan korban jiwa. Dua warga dilaporkan meninggal dunia serta tiga lainnya mengalami luka serius akibat tersambar petir di Kecamatan Kempo.
Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahmadi menjelaskan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, mulai mengguyur wilayah Dompu sekitar pukul 13.30 WITA dan berlangsung hingga pukul 15.30 Wita.
Curah hujan tinggi tersebut mengakibatkan tiga sungai besar, yakni Sungai Laju, Sungai Silo, dan Sungai Soa, meluap dan menggenangi permukiman warga di beberapa wilayah.
“Banjir merendam sejumlah kelurahan di Kecamatan Dompu dan Woja, sementara di Kecamatan Kempo terjadi insiden sambaran petir yang menyebabkan korban jiwa,” ujarnya.
Di Kecamatan Dompu, banjir dilaporkan merendam empat kelurahan, masing-masing Kelurahan Bada dengan total 110 Kepala Keluarga (KK), Potu 40 KK, Bali Satu 55 KK, dan Karijawa 90 KK.
Sementara di Kecamatan Woja, genangan air melanda Kelurahan Simpasai dengan total sebanyak 100 KK terdampak, Kandai Dua 210 KK terdampak, Desa Wawonduru 320 KK terdampak, dan Desa Baka Jaya 40 KK.
"Dengan demikian, total terdapat 965 KK yang terdampak banjir di dua kecamatan tersebut," jelasnya.
Selain itu, pagar SD Negeri 22 Woja di Desa Nowa dilaporkan roboh akibat derasnya arus air. Hingga Selasa malam, banjir mulai berangsur surut di sebagian besar wilayah terdampak.
BPBD NTB mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi hujan susulan, mengingat kondisi cuaca di wilayah Dompu dan sekitarnya masih berpotensi ekstrem.
Kepala Stasiun Meteorologi ZAM Lombok Satria Topan Primadi mengatakan dari analisis dinamika atmosfer, saat ini terpantau adanya gangguan yang dapat memicu cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah NTB.
Gangguan tersebut antara lain aktifnya Madden–Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer Kelvin, serta sirkulasi siklonik di Samudera Hindia selatan Jawa Timur yang membentuk pertemuan angin dan belokan angin di sekitar NTB.
“Kondisi ini diperkuat oleh kelembapan udara yang tinggi di berbagai ketinggian serta labilitas atmosfer yang kuat, sehingga mendukung terbentuknya awan konvektif,” jelasnya.
Akibat kondisi tersebut, BMKG memprediksi akan terjadi peningkatan pertumbuhan awan cumulonimbus di sejumlah wilayah NTB, serta berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat, yang kemungkinan disertai petir/kilat dan angin kencang.
Editor : Marthadi