LombokPost - Wakil Gubernur (Wagub) NTB Indah Dhamayanti Putri menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di NTB harus dimaksimalkan.
Hal ini sebagai instrumen utama pencegahan dan penanganan stunting serta gizi buruk. Yakni dengan memberi perhatian serius dan prioritas penuh kepada kelompok 3B. Yakni balita, ibu hamil (bumil),dan ibu menyusui (busui).
Penegasan tersebut disampaikan Wagub Umi Dinda selaku Ketua Tim Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) Provinsi NTB seiring pesatnya perkembangan pelaksanaan Program MBG hingga 1 Desember 2025.
“SPPG yang sudah berjalan harus melakukan percepatan perluasan penerima manfaat, khususnya untuk kelompok 3B. Ini adalah kunci utama untuk menurunkan angka stunting dan gizi buruk di NTB. Ini prioritas dan harus menjadi perhatian kita semua,” tegas Umi Dinda.
Menurut Umi Dinda, program MBG tidak boleh dipandang sebatas program sosial semata. Melainkan sebagai investasi besar pembangunan sumber daya manusia NTB.
“Program MBG tidak hanya kita maknai sebagai program bantuan, tetapi sebagai fondasi kuat bagi masa depan generasi NTB yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” ujarnya.
Progres MBG
Sementara itu, perkembangan program MBG di NTB hingga 1 Desember 2025 menunjukkan capaian yang sangat signifikan. Mulai dari sisi perluasan layanan, jumlah penerima manfaat, serta penguatan kelembagaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), penyerapan tenaga kerja lokal, dan keterlibatan ekonomi rakyat.
Ketua Satgas MBG Provinsi NTB Ahsanul Khalik menjelaskan, hingga saat ini jumlah SPPG di NTB telah mencapai 671 unit. Rinciannya, 475 unit sudah operasional dan 196 unit masih dalam proses pembangunan dan persiapan operasional.
Dari 475 SPPG yang telah beroperasi tersebut terdiri atas; 468 SPPG mitra masyarakat/swasta; 4 SPPG di pondok pesantren; 2 SPPG Polri; dan 1 SPPG TNI AU.
Percepatan pembangunan SPPG ini menunjukkan bahwa infrastruktur dapur MBG semakin merata di seluruh kabupaten/kota.
SPPG kini menjadi simpul utama distribusi pangan bergizi yang menghubungkan petani, nelayan, UMKM, koperasi, hingga pelayanan gizi bagi sekolah, pesantren, dan kelompok rentan.
Selain memperkuat layanan gizi, program MBG juga terbukti menjadi penggerak ekonomi lokal. Hingga awal Desember 2025, tercatat 22.093 tenaga kerja aktif terserap dalam ekosistem SPPG. Mulai dari kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, koordinator lapangan, petugas kesehatan jasa makanan, juru masak, pengolah ransum, petugas distribusi, pengemudi, petugas kebersihan, petugas keamanan, hingga koordinator operasional.
Kondisi ini menegaskan bahwa MBG bukan hanya program pemenuhan gizi. Tetapi juga instrumen nyata penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Keterlibatan pelaku usaha lokal dalam program MBG juga sangat besar, dengan jumlah supplier bahan pangan MBG mencapai 1.826 unit. Terdiri atas 974 UMKM, 68 Koperasi, 10 BUMDes, 774 suplier lainnya.
Keterlibatan luas pelaku ekonomi lokal ini menunjukkan bahwa program MBG telah menjadi pengungkit ekonomi rakyat dari hulu hingga hilir.
1,36 Juta Penerima Manfaat
Jumlah penerima manfaat program MBG di NTB telah menembus 1.362.877 jiwa. Berasal dari berbagai kelompok sasaran strategis, mulai dari balita, peserta didik PAUD hingga SMA/SMK, santri pondok pesantren, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Capaian ini menegaskan bahwa program MBG telah menjangkau hampir seluruh spektrum kelompok sasaran layanan gizi masyarakat di NTB.
Untuk semakin memperkuat peran program MBG dalam menurunkan angka stunting dan gizi buruk, Satgas MBG Provinsi NTB menetapkan sejumlah fokus kebijakan ke depan.
Yakni percepatan operasional 196 SPPG yang masih dalam proses; perluasan jangkauan penerima manfaat di wilayah terpencil dan kepulauan; penguatan cakupan kelompok 3B (Balita, Bumil, Busui); percepatan sertifikasi SLHS dan Halal pada seluruh SPPG; dan penguatan pengawasan distribusi, menu, dan keamanan pangan berbasis kolaborasi lintas sektor.
Dengan langkah-langkah tersebut, program MBG di NTB diarahkan menjadi tulang punggung pembangunan gizi Masyarakat. Sekaligus instrumen utama penurunan stunting dan pengentasan gizi buruk secara berkelanjutan.
Progres Program MBG di NTB
(Per 1 Desember 2025)
- Dari 671 SPPG: 475 operasional dan 196 sedang proses
- Serap 22.093 tenaga kerja lokal
- Libatkan 1.826 suplier lokal
- 1,36 juta jiwa penerima manfaat (lil/r3)
Editor : Marthadi