LombokPost - Sejumlah kapal penyeberangan di lintas Kayangan–Poto Tano, NTB, dilaporkan mengalami gangguan teknis belakangan ini. Berulangkali insiden berupa mati mesin di tengah perjalanan terjadi.
Terbaru pada Sabtu (13/12), kapal motor penumpang (KMP) Jax dilaporkan mengalami gangguan pada sistem kemudi di posisi bujur 49.
Akibat gangguan tersebut, kapal tidak dapat melakukan manuver secara normal dan selanjutnya ditarik oleh KMP Surya Kayangan, untuk membantu proses sandar di Dermaga 1 Pelabuhan Poto Tano.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius, terlebih pengguna jasa penyebrangan meningkat di momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) DPD NTB Iskandar Putra menyebutnya sebagai catatan buruk yang telah menjadi isu nasional.
“Ini sudah menjadi isu-isu yang membias kemana-mana, sekarang di lintas Kayangan - Poto Tano, sebelumnya tidak terjadi apa-apa, dan sekarang terjadi, ini menjadi catatan buruk lah buat kami, dengan kasus-kasus seperti ini,” jelasnya, Minggu (14/12).
Pihaknya meminta 11 perusahaan pelayaran yang beroperasi di lintas Kayangan - Poto Tano, untuk segera mengevaluasi dan memperbaiki perawatan kapal, sebagai jaminan utama bagi keselamatan pengguna jasa.
Kemudian, seluruh manajemen perusahaan pelayaran anggota Gapasdap di NTB, segera meningkatkan dan mengatur perawatan kapal masing-masing secara intensif dan berkala.
"Artinya dari beberapa permasalahan yang sering terjadi memang harus diperhatikan dengan serius,” tegasnya.
Meski demikian, Iskandar meminta ketika insiden tersebut terjadi, penting untuk tidak memukul rata kondisi semua kapal. Menurutnya, setiap perusahaan memiliki manajemen yang berbeda dalam mengatur dan merawat armadanya.
“Tidak semua kapal-kapal di lintas Kayangan-Poto Tano ini adalah kapal-kapal tua,” kata dia.
Diakuinya, ada beberapa kapal yang beroperasi dengan usia yang sudah tua namun pihak perusahaan sangat baik dalam merawat kapalnya. “Jadi memang perawatannya sangat intens dan berkala,” ujarnya.
Di dunia penyeberangan, kapal yang beroperasi diatur oleh regulasi keselamatan yang sangat ketat dan berlapis-lapis, mulai dari izin operasi, keselamatan dan keamanan hingga maintenance.
“Secara regulasi, kapal penyeberangan ini adalah sesuatu yang izin dan regulasinya sangat ketat. Berlapis-lapis lah kita bilang,” ujar Iskandar.
Pengawasan ketat ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya: Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Syahbandar atau Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) sebagai pengawas keselamatan. Dinas Perhubungan dan ASDP.
Sementara itu, mengenai persiapan menghadapi Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Gapasdap memastikan bahwa pengecekan kelaiakan kapal telah dilaksanakan secara intensif.
“Memang sudah dilakukan beberapa kali ramp check baik di Kayangan maupun di Poto Tano,” klaimnya.
Di Kayangan, ramp check dilakukan oleh Syahbandar KUPP Kelas 3 Labuhan Lombok. Di Poto Tano, ramp check dilakukan oleh KUPP Kelas 2 Benete.
Pengecekan rutin juga dilakukan oleh Dinas Perhubungan terkait Standar Pelayanan Minimal (SPM) secara berkala dan harian, yang menunjukkan kontroling yang sangat ketat.
Mengenai jaminan keselamatan bagi pengguna jasa saat momen Nataru, khususnya untuk meminimalisir kejadian gangguan mesin, Iskandar kembali menegaskan pentingnya peran manajemen perusahaan.
“Memang kita kembalikan kepada masing-masing manajemen untuk mengatur dan mengawasi maintenance-nya masing-masing," katanya.
Kemudian perlunya timbal balik yang baik antara keinginan perawatan kapal yang optimal dengan dukungan penuh dari manajemen.
Perawatan rutin, mulai dari pengecekan 2-3 jam sebelum kapal sandar, hingga perawatan berkala seperti ganti oli, pembersihan, dan kontrol suku cadang saat kapal istirahat, ini selalu dilaksanakan oleh kru kapal.
Gapasdap NTB akan terus mengimbau seluruh manajemen perusahaan kapal penyebrangan, agar memperhatikan secara serius dan intens hal-hal terkait perawatan kapal dan tidak terjadi keteledoran.
Menyikapi situasi ini, Iskandar berencana menggelar pertemuan evaluasi internal bersama anggota Gapasdap dan INFA dalam waktu dekat. Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi.
“Kemudian dari pertemuan ini, apakah nanti bisa melalui asosiasi, untuk meminta kepada manajemen pusat, memberikan perhatian khusus ke masing-masing cabang,” tandasnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB Ervan Anwar menegaskan, aspek keselamatan dan kelaikan teknis kapal penyebrangan merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar dalam pemenuhan standar pelayanan. “Ini harus menjadi atensi serius pihak perusahaan,” tegasnya.
Adanya sejumlah gangguan teknis pada armada penyeberangan di lalu lintas Kayangan-Poto Tano, dirinya meminta agar Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk segera menevaluasi menyeluruh terhadap kelaikan berlayar seluruh armada, terutama menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat pada libur Nataru.
Menurutnya, keselamatan dan kenyamanan penumpang merupakan aspek utama dalam pelayanan publik. “Seluruh operator penyeberangan wajib memastikan armadanya berada dalam kondisi prima dan layak operasi sebelum melayani masyarakat,” kata dia.
Editor : Siti Aeny Maryam