Mengembangkan Merariq sebagai atraksi wisata budaya memiliki potensi besar untuk meningkatkan daya tarik pariwisata Lombok, namun hal ini memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati melalui Standard Operating Procedure (SOP) yang kuat.
Itu sebabnya Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai jika riset kebudayaan harus menghasilkan luaran yang implementatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, saat membuka Seminar Hasil Penelitian “Tradisi Merariq Suku Sasak sebagai Penyangga Pariwisata NTB” Selasa (23/13/2025) menyatakan, bahwa riset kebudayaan perlu berlanjut hingga penyusunan pedoman atau standar operasional prosedur (SOP) agar tradisi Merariq tidak disalahartikan, khususnya terkait fenomena merariq kodek. Menurutnya, pengembangan pariwisata harus tetap berada dalam koridor nilai dan norma budaya.
Hasil penelitian yang dipaparkan Jupri, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa Merariq merupakan proses budaya yang kompleks dan sarat nilai tanggung jawab keluarga, kedewasaan sosial, serta koordinasi adat dan pemerintahan desa. Penelitian ini menunjukkan bahwa tahapan Merariq berpotensi dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya dengan tetap menjaga sakralitas dan filosofi adat Sasak.
Para panelis menegaskan Merariq sebagai sistem nilai dan proses pendewasaan sosial, bukan sekadar tradisi simbolik. Dari sisi pariwisata, pengembangan Merariq memerlukan dukungan kebijakan, promosi berkelanjutan, penguatan literasi budaya, serta pelibatan generasi muda secara bijak agar tidak terjadi distorsi makna.
Menutup kegiatan, Koordinator Pokja Sosial dan Kependudukan BRIDA NTB, L. Suryadi, menyampaikan bahwa hasil kajian akan disempurnakan dan disusun menjadi buku referensi serta pedoman adat (awiq-awiq). BRIDA NTB berharap kajian ini menjadi dasar penguatan pelestarian budaya Merariq sekaligus pilar pengembangan pariwisata budaya NTB.
Editor : Siti Aeny Maryam