LombokPost - Nutsafir Cookies Lombok memulai perjalanannya sebagai usaha olahan pangan berbasis biji-bijian pada 11 September 2012. Berangkat dari komitmen mengolah potensi lokal, brand asal Lombok ini kini mengelola 10 varian produk cookies dengan 90 persen bahan baku yang berasal dari Pulau Lombok dan sebagian dari Sumbawa.
“Alhamdulillah, kami mengolah hingga 100 kilogram bahan kue per hari dan memberdayakan sekitar 15 karyawan, yang seluruhnya merupakan perempuan,” terang Pemilik Nutsafir Cookies Lombok Sayuk Wibawati, saat ditemui Jumat (24/1).
Langkah besar dalam perjalanan bisnis Nutsafir Cookies Lombok terjadi ketika resmi bergabung dengan Shopee pada 2016. Meski pada awalnya hanya sebatas membuka toko online, pemanfaatan fitur digital secara optimal baru benar-benar dilakukan sejak pandemi Covid-19.
“Awalnya kami gabung Shopee itu sekadar punya toko saja. Tapi saat Covid, kami dipaksa beradaptasi. Tidak bisa buka toko, tidak bisa ketemu orang, akhirnya kami maksimalkan penjualan digital,” jelasnya.
Hasilnya signifikan. Penjualan Nutsafir Cookies Lombok meningkat hingga 20 persen dibandingkan sebelum bergabung ke e-commerce, bahkan mencatatkan kenaikan hingga ratusan persen setiap tahun.
Secara khusus, penjualan online sempat melonjak hingga 600 persen setelah pengelolaan toko Shopee dilakukan secara lebih profesional. Pemanfaatan berbagai fitur digital marketing seperti Shopee Live, program tanggal kembar, hingga optimalisasi respons chat pelanggan menjadi kunci pertumbuhan tersebut.
“Ternyata banyak sekali fitur Shopee yang bisa membantu UMKM naik level. Dari kecepatan respons, pengiriman, sampai cara live, semua itu kami pelajari pelan-pelan,” katanya.
Pada 2025, Nutsafir Cookies Lombok mulai menjajaki pasar internasional melalui Program Ekspor Shopee dan Shopee FLEXI. Dalam kurun waktu 2–3 bulan, produk Nutsafir sudah menerima pesanan dari Malaysia.
Keunggulan Shopee FLEXI dirasakan langsung oleh pelaku usaha karena kemudahan proses ekspor. “Melalui Shopee itu lebih fleksibel. Kita tinggal packing sesuai pesanan, urusan pengiriman dan dokumen sudah diurus Shopee,” tambahnya.
Selain Malaysia, Nutsafir Cookies Lombok juga telah melakukan pengiriman ke Australia, khususnya Adelaide, selama 3–4 tahun terakhir, serta bekerja sama dengan agregator untuk pengiriman ke New Zealand yang telah berjalan dua kali sepanjang 2025.
Produk Nutsafir bahkan telah dipajang di toko retail khusus Asia, seperti Bakulan di Australia dan Talas di New Zealand. Dari sisi kinerja bisnis, Nutsafir Cookies Lombok mencatatkan omzet rata-rata hampir Rp 200 juta per bulan sejak 2023, dengan margin keuntungan sekitar 20 persen.
Lonjakan penjualan juga rutin terjadi pada momen Ramadan dan Lebaran, yang bisa mencapai dua kali lipat dibanding bulan biasa. Pada awal 2025, Nutsafir mulai memanfaatkan fitur afiliasi Shopee sebagai bagian dari strategi digital marketing.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, Nutsafir Cookies Lombok menonjolkan kualitas kemasan sebagai salah satu keunggulan utama. Produk diklaim mampu dikirim hingga ke luar negeri tanpa mengalami kerusakan.
“Sampai sekarang belum pernah ada komplain toples pecah, bahkan dikirim dari Sabang sampai Merauke, sampai Australia dan New Zealand,” ujarnya.
Dengan strategi digital marketing yang adaptif, pemanfaatan e-commerce, serta nilai sosial yang kuat, Nutsafir Cookies Lombok menunjukkan bahwa UMKM daerah mampu naik kelas dan bersaing di pasar global.
Editor : Redaksi Lombok Post