LombokPost — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui tiga organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan inspeksi lapangan terhadap pembangunan yang dilaksanakan PT ESL di kawasan Tanjung Ringgit, Lombok Timur.
Kunjungan ini bertujuan memastikan kegiatan pembangunan berjalan sesuai prinsip keberlanjutan serta mematuhi ketentuan lingkungan dan kehutanan.
Inspeksi tersebut dihadiri Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Irnadi Kusuma, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Dinas Perindustrian NTB, serta sejumlah pegawai provinsi lainnya.
Rombongan meninjau langsung pengembangan eco-resort tahap awal yang mencakup 100 vila, termasuk infrastruktur pendukung seperti menara pengamatan dan menara pengendalian kebakaran hutan.
Kepala DPMPTSP NTB Irnadi Kusuma menyampaikan bahwa peninjauan ini penting untuk melihat secara langsung penerapan teknik dan teknologi konstruksi yang diklaim ramah lingkungan. “Kami ingin memastikan bahwa investasi yang masuk ke NTB sejalan dengan komitmen pembangunan berkelanjutan dan perlindungan kawasan,” ujarnya di sela-sela kunjungan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pembangunan akses jalan di dalam kawasan. PT ESL menerapkan teknologi jalan ramah lingkungan dengan menggunakan geogrid berbahan plastik daur ulang yang dipasang di atas lapisan batu kapur. Serbuk batu kapur dipadatkan ke dalam struktur geogrid tersebut 3tanpa menggunakan aspal maupun beton.
Metode ini dinilai memiliki emisi karbon yang lebih rendah, biaya perawatan yang lebih efisien, serta tampilan yang menyatu dengan lingkungan sekitar. Selain itu, sistem geogrid mampu mencegah kerusakan jalan akibat alur roda karena beban kendaraan terdistribusi secara merata. Pihak PT ESL menargetkan pembangunan jalan pada fase pertama yang melayani 45 eco-vila dapat rampung sebelum Idul Fitri.
Selain jalan, sistem drainase skala besar juga menjadi fokus peninjauan. PT ESL berinvestasi pada drainase berkapasitas tinggi untuk mengantisipasi curah hujan ekstrem yang berpotensi menimbulkan banjir dan erosi. Sistem ini dirancang agar air hujan dapat terserap ke dalam tanah, sehingga tidak langsung mengalir ke kawasan pantai dan laut yang sensitif.
Perwakilan Dinas LHK NTB, Yuni, menilai pendekatan tersebut sejalan dengan ketentuan perlindungan lingkungan dan kehutanan. “Drainase ini terintegrasi dengan aliran sungai buatan di dalam kawasan resort dan dilengkapi pompa tenaga surya,” jelasnya.
Sistem tersebut juga terhubung dengan tangki penyimpanan air bawah tanah yang dapat dimanfaatkan untuk pemadaman kebakaran hutan maupun menjaga vegetasi saat musim kemarau.
Dalam kunjungan itu, rombongan juga meninjau penggunaan material bangunan ramah lingkungan. PT ESL telah membangun tiga unit hunian kecil beremisi karbon rendah yang digunakan oleh arsitek dan konsultan di lokasi. Bangunan tersebut menggunakan panel berbahan limbah jerami padi yang memiliki daya isolasi tinggi dan efisien secara energi.
Perwakilan Dinas Perindustrian NTB, Helmy, menyatakan pihaknya melihat peluang pengembangan industri lokal dari inovasi tersebut. “Ada rencana pembangunan pabrik panel jerami padi di Pringabaya, Lombok Timur, agar material ini bisa diproduksi langsung di NTB,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi NTB berharap proyek ini dapat menjadi contoh investasi yang mengedepankan keberlanjutan, inovasi teknologi, serta pemberdayaan potensi lokal tanpa mengabaikan aspek lingkungan. (ton)
Editor : Redaksi Lombok Post